Sebuah kedengkian pada penonton Setengah Jalan Jakarta

Sabtu, 13 Mei 2017, Ernest Prakasa merampungkan rangkaian tur keempatnya sepanjang enam tahun berkarir sebagai seorang comic. Seperti biasa dan yang sudah-sudah, Jakarta, persisnya di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, menjadi persinggahan terakhir stand-up comedy show keliling Indonesia berjudul Setengah Jalan itu.

Dari pengamatan saya, muncul beragam testimonial positif dan ucapan selamat yang disanjungkan pada orang penting di balik Cek Toko Sebelah tersebut pasca #SetengahJalanJKT. Namun, mungkin, saya seorang penikmat sekaligus penonton yang kurang bersyukur. Sebab, walaupun Malang sempat disinggahi, tepatnya sebagai kota keempat (karena di Makassar ada kendala), saya masih merasa iri kepada para penonton show yang dihelat pada 13 Mei 2017 itu; sebabnya pun sepele.

Continue reading →

4 Momen menyenangkan saat nonton (lagi) Merem Melek Tour – The Finale

Sejarah penting stand-up comedy di Indonesia sebagai industri ditandai pada 28 Desember 2011. Di Usmar Ismail Hall, Pandji Pragiwaksono menghelat stand-up comedy special pertama di Tanah Air, Bhinneka Tunggal Tawa.

Namun, 21 April 2012 juga menjadi saat yang tak kalah penting. Merem Melek Tour, stand-up comedy show keliling pertama di Indonesia, dimulai. Meski sudah hampir lima tahun berlalu, menikmati aksi Ernest Prakasa selama lebih dari 50 menit lewat kepingan DVD ternyata masih sukses menghadirkan kegembiraan, setidaknya bagi saya.

Continue reading →

Comic untuk keluarga

Sama seperti media massa ataupun produk kecantikan, seorang comic juga perlu memikirkan segmentasi pasar jika ingin ikut bermain dan bertahan di industri ini. Contoh sederhananya adalah dengan menjadi bagian dari dikotomi ‘comic televisi’ atau ‘comic bawah tanah’. Apa pun pilihannya, tentu menjadi kebebasan masing-masing pelakunya.

Namun dari beragam opsi kategori yang tersedia, munculnya kelompok comic keluarga menjadi fenomena menarik.

Continue reading →