Televisi ancaman bagi stand-up comedy?

Semenjak stand-up comedy meledak di Indonesia tahun 2011 lalu dan dalam beberapa bulan kemudian menjadi komoditas stasiun televisi, tak butuh lama bagi pelaku seni ini untuk masuk ke industri hiburan induk. Para comic jebolan ajang pencarian bakat pun kini lazim mengisi daftar nama pemain layar lebar atau berkecimpung di belakang layar, menerbitkan buku, hingga beridentitas sebagai figur publik yang tiap ucapannya bisa menjadi pelecut bahkan pembunuh karirnya sendiri.

Sampai di sini, mau tidak mau, stand-up comedy harus berterima kasih pada televisi, walau ada juga efek negatif yang dilahirkannya.

Continue reading →