Ekspektasi tinggi pada “balik kucing” Ellen DeGeneres yang kedua

15 tahun berlalu, akhirnya Ellen DeGeneres segera kembali ke “habitat aslinya”: panggung stand-up comedy. Namun, bukannya lantas mentas sebagai host The Ellen DeGeneres Show yang sudah berjalan 15 season atau menarik diri dari dunia layar lebar, ia sepertinya hanya akan turun gunung sebentar, yakni untuk melunasi sebuah kontrak stand-up comedy special dari Netflix.

Continue reading →

Yunani sebagai rahim komedi

Hampir bisa dipastikan, manusia sudah mengenal humor dan meresponsnya dengan tawa secara naluriah jauh sebelum humor dikemas menjadi suatu bentuk hiburan bernama komedi. Namun, peradaban Yunani Kunolah yang pertama kali menuliskan di buku sejarah kapan manusia tertawa, yaitu 2.500 tahun lalu.

Ya, sekitar tahun 487 SM, sudah telah ada fenomena saat publik berbondong-bondong menggeruduk teater demi menonton komedi.

Continue reading →

Robert Klein, “Neil Armstrong”-nya stand-up comedy

Amerika Serikat di era 70-an pada dasarnya hanya menyediakan tiga cara bagi masyarakat untuk menikmati stand-up comedy. Selain melalui cara konvensional, yaitu mendatangi langsung comedy club terdekat, penikmat seni ini bisa mendengarkan rekaman joke yang disimpan dalam piringan hitam atau menunggu penampilan singkat comic yang ‘menumpang’ program televisi The Tonight Show.

Namun secara tiba-tiba, Robert Klein mendobrak tradisi tersebut.

Continue reading →

Merekam stand-up comedy

Ketika usia stand-up comedy masih sebiji jagung, Pandji Pragiwaksono menyeruak dengan ide untuk menggelar special show atas namanya. Pada 28 Desember 2011, ia merealisasikan ide tersebut dengan berdiri di panggung Usmar Ismail Hall dan menyampaikan jokes-nya secara live selama lebih dari sejam.

Pagelaran bersejarah itu ternyata mendapat respons yang mengejutkan dari penikmat stand-up comedy Tanah Air, terutama di Jakarta.

Continue reading →

Televisi ancaman bagi stand-up comedy?

Semenjak stand-up comedy meledak di Indonesia tahun 2011 lalu dan dalam beberapa bulan kemudian menjadi komoditas stasiun televisi, tak butuh lama bagi pelaku seni ini untuk masuk ke industri hiburan induk. Para comic jebolan ajang pencarian bakat pun kini lazim mengisi daftar nama pemain layar lebar atau berkecimpung di belakang layar, menerbitkan buku, hingga beridentitas sebagai figur publik yang tiap ucapannya bisa menjadi pelecut bahkan pembunuh karirnya sendiri.

Sampai di sini, mau tidak mau, stand-up comedy harus berterima kasih pada televisi, walau ada juga efek negatif yang dilahirkannya.

Continue reading →

Stand-up comedy dan batu bata merahnya

Sudah hampir enam tahun ternyata sejak video-video malam open mic perdana Stand-up Comedy Indo diunggah di YouTube. Malam itu memang bersejarah, karena para pembabat alas di seni sekaligus industri ini, yaitu Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Isman HS, dan Ryan Adriandhy, bisa dibilang telah berhasil mengenalkan stand-up comedy kepada masyarakat Indonesia secara masif.

Namun, jangan lupakan juga bahwa sejarah itu tercipta berkat ‘campur tangan’ Canda Comedy Café, Kemang, Jakarta.

Continue reading →

Menelusuri asal-usul ‘komika’

Sepemahaman saya, Bahasa Indonesia sudah biasa menyerap kata atau istilah dari bahasa asing. Lihat saja ‘Ahad’, ‘esai’, atau ‘hotel’.

Kebetulan, stand-up comedian Indonesia hingga beberapa kelompok masyarakat di sini sudah akrab dengan istilah ‘komika’, yang penggunaan dan artinya tak jauh berbeda dengan istilah Bahasa Inggrisnya, yakni ‘comic’, ‘stand-up comic’, atau ‘stand-up comedian’ itu sendiri.

Penasaran, saya pun mencari tahu siapa yang pertama kali mencuitkan kata ‘komika’.

Continue reading →