Hannah Gadsby – Nanette: Ini komedi?

“Do you understand what self-depreciation means when it comes from somebody who already exists in the margins? It’s not humility. It’s humiliation.” – Hannah Gadsby.

Max Horkheimer dan Theodore Adorno punya pandangan yang keras tentang seni dan hiburan sebagai industri budaya, di mana humor juga menjadi salah satu cabangnya. Pentolan mahzab kritis ilmu sosial itu berargumen komodifikasi budaya sudah terlalu dalam membentuk aspek unik dan privat dalam hidup manusia, meliputi humor dan selera humor. Dampaknya, produk humor kontemporer dinilai seragam, repetitif, serta minim kebebasan. Begitu yang dikeluhkan Horkheimer dan Adorno, dalam bukunya, Dialectic of Enlightenment (Dant, 2003).

Kalau saja keduanya masih hidup sampai sekarang serta mempunyai gadget, koneksi internet, dan akses untuk menonton Netflix, mungkin mereka bakal bahagia menemukan pertunjukan Hannah Gadsby. Sebab bisa dibilang, ia telah hadir sebagai solusi atas kesangsian Horkheimer dan Adorno akan humor.

Nanette adalah stand-up comedy special yang “absurd” bagi stand-up comedian kekinian; Anda boleh mengimaninya pula sebagai sebuah metahumor. Soalnya, Gadsby membantah ia memakai format standar setup-punchline dalam joke-nya. Yang ia lakukan di atas panggung ialah memberikan tensi atau ketegangan, lalu menyelesaikan atau meredakannya secara tiba-tiba (tetapi bukan dengan “happy ending” pula). Audience tertawa lebih karena perasaan lega, mengingat problem dan persoalan yang disuguhkan Gadsby ternyata sudah selesai sendiri tanpa mereka perlu turun tangan menyelesaikannya.

Makanya, Nanette terasa berbeda. Aneh saja, begitu.

Komedi Gadsby secara garis besar sejatinya sama saja: berbasis stori yang pahit dan energi negatif, tetapi dengan menghilangkan bagian tertentu agar menjadi sebuah joke. Akan tetapi, ia membuka perspektif baru dalam korelasi tensi dan trauma terhadap suatu joke itu sendiri.

“Punchlines need trauma, because punchlines need tension and tension feeds trauma,” Gadsby menyingkap teori humornya.

Sebagai seorang lesbian dan feminis, sikap Gadsby dalam humornya sangat tegas. Komika asal Australia ini enggan bertumpu pada lelucon yang merendahkan dirinya (self-depreciation). Padahal sebagai comic yang datang dari kelompok marginal, ia bisa saja menjadikannya itu sebagai senjata seperti yang lainnya.

“Itu bukan rendah hati, tapi penghinaan,” tepisnya.

Di Nanette, Gadsby mencoba mengoreksi bagaimana budaya patriarki mempengaruhi komedi hingga masyarakat yang menganggap feminis adalah makhluk yang serius, tidak bisa menerima lelucon. Namun di sisi lain, ia pun mengkritik komunitasnya sendiri yang terlalu “ekstrover” dengan melakukan parade dan tampil di hadapan publik, tidak cocok bagi orang seperti dia yang lebih menyukai ketenangan. Bendera simbol LGBT tak luput dari komentar pedasnya, gara-gara terlalu mencolok dan tidak nyaman dipandang.

Sementara terkait narasi pribadinya, kisah masa lalu Gadsby dan kedekatan dengan ibunya menawarkan dimensi menarik tentang kemanusiaan dan parenting. Gadsby turut bercerita betapa ia biasa disangka seorang pria (atau pria transgender) karena penampilannya. Ia tidak marah, justru merasa bersyukur karena untuk sesaat, dirinya bisa menikmati privilese kaum adam sekaligus kaum kulit putih.

Buntut-buntutnya dalam bit itu, ia juga menyinggung gaji pria yang lebih tinggi dari wanita. Saya ada keyakinan lebih kalau humor Gadsby ini cocok untuk memenuhi selera humor Horkheimer dan Adorno yang tidak pasaran itu.

Bit Terbaik: Warna Biru.

Oh iya, jangan berharap hiburan kalau Anda ingin menonton Nanette. Nikmatilah sebagai seni, diskursus tentang komedi itu sendiri, atau orasi tentang kemanusiaan, kalau boleh saya usul.

 

Referensi:

Dant, T. (2003). Critical Social Theory: Culture, Society, and Critique. London, Thousand Oaks, New Delhi: SAGE Publications.

(sumber gamber: Netflix)

Kasih tahu netizen kalau ada situs komedi macam ini, dong!

Leave a Reply

Your email address will not be published.