Pandji Pragiwaksono – #PragiwaksonoSBY: Titik terendah Mr. World Tour

Walau sudah dua kali tur dunia, Pandji Pragiwaksono enggan menanggalkan Surabaya di daftar kota singgah tur dunia ketiganya, Pragiwaksono. Begitu spesialnya Kota Pahlawan ini, sampai-sampai #PragiwaksonoSBY diadakan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan juga perilisan album rap terbaru Mr. World Tour, Pembalasan (nanti akan dibahas apa hubungannya dengan pertunjukan komedi ini). Lantas dari segi materi, tetap berkualitaskah Pandji?

Mempromosikan sedari awal bahwa Pragiwaksono merupakan stand-up comedy special yang sifatnya lebih personal dibandingkan yang sudah-sudah, Pandji menepati hal itu. Setidaknya, di setengah set awalnya. Sisanya, seakan ingin tetap mempertahankan ciri khas yang telah dibangunnya sedari awal open mic atau tidak sudi mengecewakan penonton yang menunggu wawasan baru darinya, setelah itu Pandji pun kembali ke “kodratnya”. Ia menyampaikan joke demi joke dalam tesis besar persatuan, budaya malas membaca, hingga alasan mengapa banyak orang Indonesia yang memilih untuk berkarya dan bekerja di luar negeri.

Sebelum lebih jauh membahas penampilan empunya acara dan menyebutkan kejutan yang Pandji siapkan di akhir untuk #PragiwaksonoSBY, mari mencolek dua komika pembuka di DBL Arena Sabtu itu.

Fuad Kangean

Finalis Stand-up Comedy Academy (SUCA) Season 3 ini terpilih menjadi opener #PragiwaksonoSBY setelah menyisihkan sejumlah komika delegasi komunitas-komunitas stand-up comedy se-Jawa Timur. Tentu saja dengan standar setinggi itu, tak heran kalau rapor Fuad sebagai pembuka bisa dibilang ciamik.

Membawakan keresahan seputar orang Madura dan prasangka umum masyarakat Surabaya terhadap etnis Madura, Fuad memulai pagelaran negosiasi etnis yang singkat tapi apik malam itu, sebelum diteruskan oleh perwakilan Papua, Mamat Alkatiri. Satu catatan (atau malah strategi?) menarik terkait penampilannya malam itu adalah walaupun set-nya didominasi oleh emosi negatif, tetapi volume suara Fuad tak selalu tinggi atau menggelegar. Alhasil, penampilan dan power-nya hingga akhir enak untuk dinikmati.

Bit Terbaik: Orang Madura = Orang Jahat.

Mamat Alkatiri

Menikmati joke dari komika pembuka tentang komika utama di suatu pertunjukan selalu membawa kesenangan sendiri bagi saya dan mungkin juga penonton lainnya. Walau sederhana, sentuhan seperti ini bisa membuat si opener lepas dari pandangan kalau mereka tampil untuk “menggugurkan kewajiban” semata.

Mamat melakukan itu, dari membahas posisi Pandji di Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu, dukungannya terhadap kaum LGBT, sampai keputusannya memasyarakatkan Daun Bungkus Papua di Juru Bicara. Comic asal Fakfak ini menunjukkan opini yang tegas di tiap bit-nya, walau beberapanya mungkin terdengar tidak populer.

Bit Terbaik: Penemu Khasiat Daun Bungkus Papua.

Narasi personal yang amat rasial dari Fuad dan Mamat malam itu saya rasa sukses menjadi nilai jual tersendiri #PragiwaksonoSBY. Suguhan negosiasi perwakilan dua ras berbeda kepada penonton (yang besar kans) didominasi oleh etnis Jawa ini saya rasa penting di tengah panasnya isu diskriminasi ras di negeri ini. Entah disengaja atau tidak, pemilihan komika pembuka #PragiwaksonoSBY layak diapresiasi.

Pandji Pragiwaksono

Akhirnya, saya tahu sendiri apa yang dimaksud “personal” oleh Pandji di konten promosi tur stand-up comedy Pragiwaksono. Malam itu, ia menceritakan momen kelahirannya, cinta monyet dan kisah cintanya di bangku sekolah, hingga menjadi mahasiswa serta saat meniti karir di dunia hiburan. Ia mengumbar titik-titik terendah dalam hidupnya, kebanyakan secara cuek, kecuali (seperti yang ia akui sendiri di atas panggung) saat membahas keterlibatannya turun ke jalan tahun 1998.

Kendati begitu, cukup mengganjal bagi saya, bagaimana seorang comic 39 tahun dengan dua anak harus membahas awal mula ia menyatakan perasaannya ke seorang wanita saat kelas 6 SD. Atau saat ia hampir mempunyai nama yang sama dengan musisi kondang Tanah Air sekaligus sahabatnya. Di satu sisi, pembahasan tersebut bisa dibilang terlalu remeh untuk Mr. World Tour dengan rekam jejak materi-materi yang “berani” di penampilan-penampilannya yang lalu.

Namun, narasi-narasi tersebut membuktikan bahwa Pandji juga manusia. Ia juga pernah lemah, gentar, diremehkan, dan tentu saja, gagal. Saya juga baru tahu kalau ternyata Pandji yang sudah sejauh ini menjalani profesi sebagai seorang public speaker, dulunya gagap. Kerikil-kerikil di hidupnya itulah yang membentuk kesan intim pada stand-up comedy special kelimanya ini.

Lalu, seperti yang sudah disinggung di awal, sekitar setengah ke belakang penampilan Pandji berisikan pembahasan yang “Pandji banget”. Ditambah dengan joke-joke observasi tentang hewan yang pada akhirnya (dan secara mengejutkan), justru menjadi favorit saya sepanjang set Pragiwaksono.

Personifikasi hewan sendiri memang sudah menjadi salah satu set kekuatan Pandji. Sejak Bhinneka Tunggal Tawa pun ia sudah membahas tingkah kucing dan komodo sebagai maskot SEA Games 2011. Namun, hipotesisnya tentang tikus yang depresi terlampau menyentil bagi saya malam itu yang merasakan keresahan yang sama tetapi tidak menemukan di mana komedinya.

Bit Terbaik: Tikus Bisa Depresi Seperti Manusia.

Secara keseluruhan, #PragiwaksonoSBY sangatlah nikmat, walaupun saya menikmatinya dari bangku Silver yang secara posisi tak senyaman penonton yang ada di kategori-kategori di atasnya. Sebabnya, Pandji sangat mati-matian menghibur kami. Selepas berkomedi selama tiga jam, suami Gamila itu sekonyong-konyong mengenakan topinya, lalu menyuguhkan konser rap mini sebagai penutup sekaligus mempromosikan album Pembalasan. Lagu Melayu yang legendaris tersebut dan single andalan di album kelimanya, Makan Makan, memamungkaskan #PragiwaksonoSBY.

Ah, belum final saja sudah secakep ini. Para peludes #PragiwaksonoJKT 26 Januari 2019 nanti pasti jauh lebih beruntung daripada kami di Surabaya.

 

(sumber gambar: Firda)

Kasih tahu netizen kalau ada situs komedi macam ini, dong!

Leave a Reply

Your email address will not be published.