Kokoyawo – Syebal: Sebal, sebal, gemas

Tak harus berkarya di televisi dulu untuk membuat karya yang pantas dikenang. Kokoyawo di Syebal dengan brilian dan tanpa sungkan menuangkan observasi dan opini menggemaskannya ke joke-joke yang ia siapkan. Dihadiri pula oleh orang-orang yang mengenal dan Koko kenal baik di kehidupannya di bawah panggung, Syebal diakhiri dengan kumpulan ucapan selamat, jabat erat, serta antrean ajakan foto dan Instagram Stories bersama empunya acara. Saya dihadapkan oleh sebuah pertunjukan komedi tunggal yang benar-benar hangat.

Koko memulai malamnya dengan kesebalan terhadap Young Lex yang mempengaruhi anak-anak untuk (terlalu) suka mengumpat. Leluconnya lantas berlanjut ke bahasan lain tentang perkuliahan, vagina buatan, sampai macam-macam teman yang paling mengganggu di hidupnya. Di sela-sela itu, ada sejumlah bit yang dari premisnya saja sudah bikin gemas pendengar, seperti bagaimana kalau gay memakai ilmu pelet dan gambaran dunia paralel ketika lele berternak manusia.

Namun, bit terbaik malam itu dari Koko versi saya (juga para penonton yang mengapresiasinya dengan tepuk tangan plus tawa yang cukup panjang) adalah kisah ayahnya yang depresi sampai membuatnya ingin mendahului takdir Tuhan. Tak ada yang spesial secara struktur dari bit ini, tetapi Koko sukses menyuntikkan kadar empati di atas joke lainnya ke pikiran kami, sehingga menjadi warna yang benar-benar beda di kala set-nya didominasi oleh humor observasi. Mungkin, di sinilah pekerjaan rumah untuk Koko jika ingin membawa set Syebal ke show atau tur lain: perlukah menjadikannya penutup set atau tetap dibiarkan di tengah-tengah sebagai variasi?

Poin plus lain dari Syebal adalah betapa padunya Koko dengan para opener, setidaknya dua di antaranya (maafkan keterbatasan saya kali ini yang kebetulan berposisi sebagai pengulas sekaligus salah satu pembuka Syebal). Koko beserta Andang Ristian dan Dhika Haryo seperti tiga lingkaran di diagram Venn yang warna komedinya saling bertemu di tengah, tetapi tanpa tumpang tindih satu sama lain. Andang bersenjatakan joke-joke pendek nan patah yang Koko juga punya, walaupun kisah-kisah pribadi dan self-deprecating Andang jauh lebih tajam untuk menodong tawa audience.

Sementara Dhika bukanlah comic pengais half-punch. Kita yang melihatnya diajak untuk lebih fokus ke kemasan joke-nya yang berhiaskan opini dan pemikiran yang berani. Saya sendiri cukup kaget saat ia membuka set-nya dengan joke feminisme, isu yang cukup sensitif bagi netizen Twitter saat ini dan berpotensi menanggalkan izin tertawa penonton. Kerennya, hipotesis saya bisa Dhika patahkan. Koko sendiri pun mempertontonkan hal itu beberapa kali, salah satunya di joke-nya seputar kuliah.

Kalau dari segi venue, sepertinya tak ada yang komplain. Pendingin ruangan aktif dari awal sampai acara berakhir, set lampu juga baik, dari segi suara pun mantap. Yang perlu disyukuri, Koko dan para penampil Syebal bukanlah tipikal comic yang sangat aktif di atas panggung, sehingga tak sampai mengusik roll banner salah satu sponsor pendukung yang menemani para comic malam itu. Setidaknya, hadirin tahu betul kalau Aan Papeda, sang MC, benar-benar tak menyia-nyiakan presensi branding toko kue itu untuk memproduksi kelucuan bertubi-tubi.

Di Syebal, Koko mulai naik ke panggung pukul 20.35 WIB dan menutupnya tak terlalu malam, sekitar pukul 21.20 WIB. Enam tahunan sebagai stand-up comedian materi terbaik Koko tak sampai sejam? Tidak juga. Pertama, ia telah mengungkap sebelumnya kalau Syebal berisikan bit yang memang ia jarang bawakan di show atau panggung lain karena terlalu sensitif. Kedua, karena pasca show ia mengakui dan diingatkan pula oleh teman-teman Stand-up Indo Jogja kalau ada beberapa bit yang terlupa dibawakan. Situasi yang berkebalikan kalau dibandingkan misalnya dengan salah satu stand-up comedy special Wawan Saktiawan, Gasgasan 2017, saat ia justru terpaksa memangkas set-nya dengan alasan durasi.

Syebal layaknya perayaan pengumpul kesebalan Koko yang dirayakan 100-an audience di Auditorium Institut Français Indonesia / Lembaga Indonesia Prancis, Jogjakarta, malam itu. Layaknya perayaan pada umumnya, yang saya lihat sendiri, mereka pulang dalam keadaan bahagia, tanpa rasa sebal.

Bit Terbaik: Ayah Depresi

 

(sumber gambar: Stand-up Indo Jogja)

Kasih tahu netizen kalau ada situs komedi macam ini, dong!

Leave a Reply

Your email address will not be published.