Eksplanasi yang (mungkin) Anda cari tentang Stand-up Night termegah se-Indonesia

22 November 2017, komunitas Stand-up Indo Malang menorehkan sejarah, baik di skala lokal maupun nasional. Ya, Stand-up Night keenamnya alias #SUN6MLG dimeriahkan oleh total 20 comic serta dihadiri lebih dari 3.500 penonton dari semua kalangan. Acara legendaris ini bahkan masih hidup di sebagian benak saksinya dan menjadi pembicaraan sampai sekarang.

Andaikata ada di antara Anda yang masih menyimpan pertanyaan itu dan tetap mencoba mencari jawabannya, semoga tulisan ini mengandung penjelasan yang Anda cari. Tulisan ini sendiri saya buat berlandaskan diskusi dengan sesama anggota dan pengurus aktif Stand-up Indo Malang.

 

1. Tiketnya terlalu murah?

Sempat menjadi topik pembahasan sejumlah comic nasional di Twitter, harga tiket #SUN6MLG ini dianggap terlalu murah karena lineup-nya sangat mentereng dan banyak, tetapi harga tiketnya tak seberapa. Di saat promo bahkan penonton bisa mendapatkan empat tiket seharga Rp100.000 saja untuk menonton penampilan 10 comic lokal plus delapan comic yang namanya sudah tak asing lagi di Indonesia selama seharian penuh.

Di satu sisi, hal ini memang benar. Seakan-akan, apresiasi berdasarkan nominal tiket yang diberikan pada para komika tak sebanding. Harga tiket yang terlalu murah pun bukan tidak mungkin berdampak buruk pada kelangsungan show selanjutnya. Namun, jika harga tiket ini dikomparasikan langsung dengan standar harga tiket stand-up comedy show atau special di Jakarta, rasanya kurang bijak. Sebab, komunitas Stand-up Indo Malang dalam menentukan tiket pastinya juga melihat dari beberapa faktor, seperti demografi penonton yang mayoritas mahasiswa dan pelajar di Malang alias kebanyakan masih mendapat uang saku dari orang tua serta UMK Kota Malang yang “hanya” berkisar di angka Rp2 jutaan.

Tentu, sebuah pekerjaan rumah yang tak gampang untuk meningkatkan standar harga pagelaran stand-up comedy di kota Malang, dan kota-kota tier dua atau tiga lainnya pada umumnya, agar sesuai dengan kerja keras para komika juga komunitas selaku penyelenggara dalam menjalani pra hingga pasca produksi. Namun, komunitas Stand-up Indo Malang sudah berkomitmen untuk itu.

 

2. Kok comic nasional membuka penampilan comic lokal?

Jonathan Adi Wijaya, salah satu penonton #SUN6MLG, menuliskan di blognya kalau ia terkejut dengan penentuan lineup pagelaran tersebut. Di #SUN6MLG, total terdapat lima kloter, empat awalnya dibuka oleh penampil berlabel comic nasional dan masing-masing kloter ditutup oleh penampilan komika lokal. Bahkan di kloter kelima, empat penampil paling akhir semuanya adalah comic asli Stand-up Indo Malang.

Ini memang kesengajaan dari panitia, dalam rangka mengangkat derajat comic-comic lokal di mata penonton dan warga Malang. Bahwasannya, comic-comic lokal tidak kalah lucu dan menghibur dibandingkan dengan comic-comic yang namanya sudah menggaung di Tanah Air. Sejalan dengan pendapat Awwe di vlog Jekibar, keunggulan berupa pemahaman terhadap situasi dan kondisi terkini di daerah maupun permainan diksi khas setempat bisa jadi andalan para komika lokal untuk mencatatkan laugh per minute (LPM) lebih padat ketimbang comic tamu. Hal ini pulalah yang tak disia-siakan oleh deretan comic lokal kala itu, seperti Bobby Darwin, Ken Radhiq, Juned, atau Bachaq.

 

3. Mengapa acara ini mencatut nama kampus?

#SUN6MLG bukan buah karya komunitas Stand-up Indo Malang sendirian, tetapi juga ada kontribusi besar dari BEM Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Dalam semangat kolaborasi dan usaha untuk berkembang bersama, komunitas Stand-up Indo Malang biasa menjalani kerja sama seperti ini. Sebagai komunitas, kami menyadari ada beberapa hal yang tidak bisa kami kerjakan sendiri, sementara di sisi lain Stand-up Indo Malang mempunyai daya jual serta tarik yang tinggi, sehingga bisa memikat pihak-pihak lain untuk bahu-membahu merealisasikan visi bersama. Pun seharusnya dengan komunitas-komunitas di daerah lain.

Kalau ada di antara pembaca tulisan ini yang berminat berkolaborasi dengan Stand-up Indo Malang atau komunitas setempatnya, sebaiknya jangan ragu untuk saling terhubung dan mulai menggodok event yang diimpikan bersama-sama.

 

4. Akankah ada lagi acara serupa #SUN6MLG?

Kemungkinan, tidak, terlebih kalau hitungannya dalam waktu dekat.

Pasalnya, merujuk pada poin pertama, komunitas Stand-up Indo Malang selayaknya perlu merampungkan dulu pekerjaan rumah untuk mengedukasi masyarakat agar punya rasa apresiasi yang tinggi terhadap kerja keras semua stakeholder, sehingga harga tiket bisa memuaskan dan dianggap layak oleh banyak pihak, sebelum membuat show dengan penonton besar lagi. Akan tetapi, jangan khawatir karena kreativitas komunitas dalam mengemas acaranya barangkali bakal lebih kentara di waktu yang akan datang. Nantikan saja!

 

(Sumber gambar: Kukuh)

Kasih tahu netizen kalau ada situs komedi macam ini, dong!

Leave a Reply

Your email address will not be published.