Ahamed Weinberg dan perayaan identitas Muslim di komedi

Di antara nama-nama stand-up comedian yang berbasis di Los Angeles, California, Ahamed Weinberg termasuk ke kelompok kecil yang terunik secara persona. Ia adalah anak dari sepasang mualaf seorang pria Yahudi dan wanita Katolik. Jangan terkejut, nama depannya yang Islami yang dibarengi nama marga Yahudi hanyalah satu dari sekian banyak joke briliannya.

“… And then my parents met, and they said, ‘It’s on.’ They said, ‘Let’s make the weirdest kid possible!’ They said, ‘Let’s make a human being whose only career option is stand-up comedy,” begitu joke lain Ahamed tentang dirinya yang dibawakan di Late Night with Seth Meyers.

Kehadiran Ahamed tak cuma menyegarkan kembali daftar komedian pembela identitas Muslim di Amerika Serikat yang sudah diisi oleh nama-nama seperti Ahmed Ahmed, Dean Obeidallah, Maz Jobrani, hingga Kumail Nanjiani dan Hasan Minhaj yang belakangan menyodok ke atas. Namun, ia juga spesial karena secara spesifik mengenalkan Ramadan sebagai salah satu ritual yang dilakukan umat Islam di seluruh dunia. Ya, sejak tahun lalu, ia membintangi sketsa singkat bertajuk Ahamed’s Ramadan Diary.

Di serial komedi yang diproduksi oleh Comedy Central itu, Ahamed mempertontonkan sisi kehidupannya sebagai seorang Muslim berkulit putih di Amerika Serikat berbumbu polemik-polemiknya dalam menjalankan ibadah puasa di bulan suci. Comic yang baru tahun lalu menembus layar televisi itu berhadapan dengan urusan terstandar macam menahan rasa lapar dan haus di siang hari, meningkat ke merayakan Idul Fitri di lingkungan yang sangat sederhana dan jelas jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, hingga putus cinta karena wanita idamannya harus menjalankan budaya keluarganya alias dijodohkan.

Adegan-adegan dalam Ahamed’s Ramadan Diary juga menampilkan secara spesifik karakteristik seorang Muslim. Ada adegan salat sendirian, berjamaah, sampai ke masjid (lengkap dengan Ahamed yang selalu mengenakan pecinya); makan sahur; dan interaksi bersama karakter Muslim lainnya beserta toleransi yang dipertontonkan antara Ahamed dengan teman-temannya. Dialog pembangun cerita juga dihias dengan nilai-nilai menjadi seorang Muslim beserta kritik-kritik sosial tentang kondisi komunitas Muslim di AS.

Singkatnya, masuknya serial ini sebagai produk budaya populer AS menjadi semacam propaganda lanjutan untuk memerangi Islamophobia yang dicanangkan para komedian Muslim di sana. Di samping itu, Ahamed’s Ramadan Diary pun layak menjadi alternatif hiburan sekaligus suplemen wawasan budaya yang cocok dikonsumsi kala ngabuburit, walaupun memang sangat disayangkan durasi per episodenya terlalu amat singkat.

Dalam sebuah wawancara dengan Forward (26/06/16), Ahamed mengakui kalau tipikal komedinya memang berangkat dari keresahannya sebagai seorang Muslim di AS yang kian sulit situasinya pasca tragedi 9/11. Tidak mengherankan kalau komedinya pun bermain di ambang batas isu agama dan ras yang bagi sebagian orang amat sensitif.

“Saya tidak pernah sepenuhnya menemukan identitas saya sebagai seorang Muslim… [sebenarnya,] saya ingin menjadi ‘orang Amerika normal. Namun semasa sekolah, saya tidak pernah merasa cocok hidup di masyarakat Barat karena saya seorang Muslim,” kata pria berjambang itu.

Selain Ahamed’s Ramadan Diary, proyek lain Ahamed yang sedang berlangsung adalah Please Understand Me. Bersama Sarah Silverman, ia menggarap serial yang masih berkaitan dengan promosi multi-kulturalisme dengan menampilkan para pasangan komedian yang berkonsultasi dengan para terapis profesional. Tentu saja, polemik yang ditayangkan di sana hanyalah rekaan belaka, tetapi bukan tidak mungkin benar-benar dialami oleh pasangan beda etnis, agama, dan kelompok di luar sana.

 

(sumber gambar: YouTube / Comedy Central)

Kasih tahu netizen kalau ada situs komedi macam ini, dong!

Leave a Reply

Your email address will not be published.