Di balik komedi “suci” Fito Ditapradja

Fito Ditapradja adalah salah satu comic yang sudah mengganggu pikiran saya sejak lama gara-gara tipikal komedinya. Rasa joke-nya tidak “pahit”, bahkan sangat manis seakan tanpa keresahan; mengobservasi hal-hal remeh cenderung aneh, semacam Squidward Tentacles dan sekolah khusus bayi; juga ia hampir tidak pernah mengumpat di panggung. Sebuah anomali di tengah tren comic Indonesia yang berkiblat pada Louis C.K. sekaligus pengadopsi formula “tragedi + waktu = komedi”.

Dalam pikiran saya sebelumnya, komedi sejenis ini amat mustahil. Ketika kebanyakan comic menonjolkan keresahannya supaya bisa mendapatkan simpati audience, bagaimana mungkin ada satu comic yang seperti tidak resah dalam hidupnya, tapi bisa melakoni stand-up comedy dengan cantik sedari mendapat panggung besar pertamanya tahun 2012 lalu. Stand-up Night 1 dan 2 Malang, opener Ernest Prakasa di Merem Melek Tour Malang, hingga Second Chance Stand-up Comedy Indonesia (SUCI) Season 6 Kompas TV adalah beberapa buktinya.

Kegemaran pikiran saya yang suka berteori sendiri menduga bahwa pasti ada faktor di kehidupan sehari-hari yang membentuk komedi Fito. Sampai akhirnya, terjawab juga setelah berkesempatan mengobrol empat mata dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Akarnya, seperti ditunjang oleh pengakuan Fito, ternyata kembali lagi pada teori pembentuk kepribadian manusia, yakni lingkungan. Lebih spesifik lagi, lingkungan keluarga sangat berpengaruh untuk mencetak karakter personal dan komedinya. Hidup bersama Ayah dan Bunda bertipikal rela menerima, tidak menuntut, dan jarang meluapkan emosi negatif di depan anak menurutnya adalah faktor yang menjadikannya seperti ini.

Ia juga membocorkan satu keuntungan yang tak dimiliki semua comic di awal karirnya. Walaupun berlatar belakang pelajar SMA, joke-nya tetap disukai audience dari kalangan mahasiswa dan di atasnya berkat kedekatannya dengan saudara yang lebih tua. Di samping itu, sedari memulai ia pun sudah mencuat gara-gara personanya yang unik dibandingkan kebanyakan comic Malang yang saat itu hampir setipe semuanya, yakni anak kuliahan. Jadi, wajar kalau Fito pun tercatat dalam sejarah Stand-up Indo Malang sebagai comic pertama yang mengenyam dua kali panggung Stand-up Night.

“Yang saya rasa, tipikal bercandaan anak kuliah dan SMA ada bedanya. Guyonan anak SMA kalau didengarkan anak kuliahan biasanya di-‘apasih’, kan. Bisa karena perbedaan usia atau lingkungan. Nah, saya punya keuntungan karena di keluarga besar sering kumpul dengan mbak-mbak dan mas-mas yang lebih tua. Jadi, saya punya gambaran gimana guyonan yang sering dipakai orang yang umurnya di atas saya,” terangnya.

Apakah menjadi comic dengan karakteristik semacam ini tak punya konsekuensi? Fito merasa hidupnya oke-oke saja. Ciri komedi observasinya saya rasa sampai tulisan ini dipublikasikan pun belum luntur. Namun, ia mengakui kalau untuk sekarang masih kurang andal dalam mengolah materi berdasarkan kejadian nyata. Yang saya rasakan selama mengikuti Fito dan komedinya, bit-nya tentang di-drop out dari STAN barulah materi pertamanya yang kental akan emosi negatif, walaupun joke dalam materi itu sendiri kebanyakan bukanlah berupa peluapan emosi dalam dirinya.

“Kudu menimpa saya sendiri atau orang terdekat sampai saya bisa merasakan empati. Emosi saya sendiri cenderung samar, bukan yang semacam biner gitu, yang kalau enggak 0 ya 1,” jelasnya.

Tentu saja, pembasan ini masih jauh dari layak untuk dijadikan teori dan pakem dalam menilai kehidupan riil seorang comic berdasarkan joke yang dibawakannya di atas panggung. Namun, kembali lagi seperti yang sudah saya nyatakan di awal, menurut saya Fito Ditapradja adalah suatu ketaknormalan di tengah tipikal comic Stand-up Indo Malang yang dikenal tegas dalam menuangkan emosi di komedinya, sehingga bisa dijadikan salah satu contoh konkret.

 

Tulisan ini diolah dari obrolan langsung dengan Fito Ditapradja pada 10 Maret 2017.

(sumber gambar: Djainul)

Leave a Reply

Your email address will not be published.