Comedy Sunday

Comedy Sunday: First Time, mini-show yang terlalu sempurna

Sebenarnya, saya sebagai penikmat stand-up comedy cukup menyesal karena sudah melewatkan dua episode awal Comedy Sunday. Namun, penyesalan itu bisa terkikis hebat saat datang ke edisi ketiga gig intim itu pada 6 Agustus 2017 lalu. Sebabnya, tak cuma karena para lineup yang datang jauh-jauh datang dari Jakarta Barat itu berhasil memecahkan crowd non-Jabodetabek pertamanya, tetapi karena pengalaman menikmatinya amat menyenangkan.

Untuk sebuah venue stand-up comedy show seharga Rp35.000, lokasi baru Matchbox Too di Jalan Opak no. 45, Wonokromo, sangat nyaman (plus mudah ditemukan dan dingin, penting disebut karena Comedy Sunday digelar di Surabaya). Para krunya cukup apresiatif dan tampak ikut menikmati penampil ketika tidak ada order datang, bukannya bercanda atau berisik sendiri seperti di segelintir kafe sekaligus host stand-up comedy show yang pernah saya datangi. Asalkan Anda membawa uang lebih untuk jajan di tempat dan tidak memesan menu yang mengharuskan pramusaji menyalakan blender di tengah-tengah acara, menghayati pertunjukan di sana amatlah sempurna.

Hal menyenangkan kedua adalah bagaimana duo MC malam hari itu, Dono Pradana dan Firza Valaza, mengontrol jalannya acara secara impresif. Comedy Sunday: First Time memang tak menampilkan opener, tetapi bukan masalah karena kedua MC secara maksimal memanaskan crowd sampai 30 menitan. Selain mengisengi penonton sampai memainkan peralatan DJ Dvrren yang turut menyemarakkan malam itu, keduanya juga tak ragu membela “almamater” masing-masing: Dono untuk Stand-up Comedy Academy (SUCA) Indosiar dan Firza dari kubu Stand-up Comedy Indonesia (SUCI) Kompas TV. Penonton makin nyaman diajak tertawa karena keduanya tak lupa untuk menjatuhkan diri masing-masing akibat keluar dari kompetisi di awal-awal babak.

Hingga akhirnya sedikit lepas dari pukul 20.00, comic pertama dipanggil. Segmen utama ini memang menyenangkan, tapi pesan saya, simpanlah kegairahan Anda sampai bagian terakhir tiba. Begini sejumlah catatan saya dari penampilan trio #PREview yang masing-masingnya tampil sekitar 30 menitan di Comedy Sunday.

Comedy Sunday: First Time, mini-show yang terlalu sempurna

Pandu Winoto

Jebolan SUCA Season 2 ini berusaha naik panggung dengan memunculkan aura sangar, yakni sambil membawa sebotol minuman yang beberapa saat kemudian ia akui bukan miras. Sayang, kendati sudah mengandalkan “gimmick” bad boy dan cowok miskin, Pandu tampak grogi dan kurang menikmati panggung di awal. Buktinya, joke membeli rokok pasca lulus SUCA tak bekerja maksimal. Ia pun tak bisa menghubungkan antar bit-nya dengan mulus dan memilih menyampaikannya dalam “Bab I”, “Bab II”, dan seterusnya.

Namun, satu kematangannya sebagai comic bisa dilihat dari penyusunan setlist yang baik, setidaknya seiring bertambah “bab”, tawanya juga mulai meningkat hingga akhirnya bit closing Pandu bisa menutupi penampilannya di awal yang kurang ciamik. Kelakar rapper tanggul itu soal bagaimana kru infotainment meliput rumahnya lantas dibandingkan dengan rumah Raditya Dika manjur. Walau berstatus sebagai penutup setlist-nya malam itu, bit closing Pandu justru adalah awal mula penampilan apiknya malam itu di segmen selanjutnya.

Bit Terbaik: Liputan Infotainment ke Rumah.

Comedy Sunday: First Time, mini-show yang terlalu sempurna

Rere Rassofyan

Secara personal, saya suka sekali tipikal joke Rere dan sangat menikmati pengalaman menonton finalis SUCI Season 7 itu. Kombinasi komedi observasi dan parodi yang dibawakannya sesuai selera saya, bahkan sepertinya jauh lebih baik dari penampilan singkatnya di Kompas TV.

Berkebalikan dengan Pandu, Rere tampil sebagai “comic santun”, tanpa menunjukkan kesangaran dari luar dan memilih untuk tampil layaknya mahasiswa biasa sembari “berbasa-basi” dengan bit keseringan lupa memperkenalkan diri saat tampil. Hasilnya, sedari awal ia tampak lebih diterima oleh audience dan dihadiahi applause break lebih cepat dibandingkan Pandu. Saya curiga, ada korelasi antara audience malam itu yang didominasi perempuan berjilbab dengan tipikal komedi dan persona “aman” yang ditampilkan Rere.

Bit azab ilahi serta komparasi comic SUCI yang close mic di awal dengan juara Fear Factor dan Ninja Warrior di dunia kerja yang kompetitif adalah favorit saya pribadi. Secara keseluruhan, penampilan Rere menumpukkan beban yang sangat berat pada sang headliner.

Bit Terbaik: Azab Ilahi.

Comedy Sunday: First Time, mini-show yang terlalu sempurna

Erwin

Dibandingkan dua “pembukanya”, Erwin kemungkinan besar adalah nama comic terawam di dalam kepala audience malam itu. Ia bukannya tak berminat menapaki jalur mayor tersebut. Seingat saya, saya pernah melihatnya mengantre di audisi SUCI Season 5 di Surabaya. Saya tak punya informasi terkait apa yang membuatnya gagal waktu itu, tapi saya yakin bukanlah faktor teknisnya sebagai comic, lebih-lebih kalau menyimak keseluruhan materi yang ia bawakan di Comedy Sunday.

Beda dengan Rere yang personanya tak kuat, komedi Erwin berbalut keresahan sebagai pemeluk agama minoritas plus warga etnis Tionghoa. Sudah gitu, posisi Erwin makin sulit ketika ia sendiri sempat tak sepenuhnya yakin dengan kepercayaan yang dipeluknya (dan segelintir orang di Indonesia itu).

Rasa-rasanya, penonton malam itu, termasuk saya, kebanyakan tertawa atas dasar superioritas terhadap Erwin yang berstatus dobel minoritas. Akan tetapi, sebagian bit-nya juga mengandung argumentasi yang sangat rasional, seperti fenomena pembakaran tempat ibadah di Sumatera Utara. Malam yang emosional untuk bagian dari kelompok mayoritas di Indonesia yang mendengar keluh-kesah Erwin malam itu. Juga pastinya bagi Erwin, yang meminta agar tidak ada penonton yang merekam ucapannya demi Indonesia yang lebih damai.

Bit Terbaik: Agama yang Paling Benar

Nah ini, tibalah bagian paling menarik sekaligus favorit saya dari Comedy Sunday: First Time. Alih-alih menutup malam itu dengan menunggangi kegemilangan Erwin, Dono dan Virza meminta trio #PREview naik lagi dan “melokalkan” materi mereka sembari sesekali melakukan roast.

Ya, seperti yang mungkin telah banyak disadari, stand-up comedy yang ditayangkan di televisi kental dengan Jakartasentrisme. Mau tidak mau, comic yang menjajal panggung yang disediakan televisi tidak bisa memakai diksi atau kata khas daerahnya dan pembahasan tertentu karena menyusahkan penonton di studio yang sebagian besar adalah warga Jakarta untuk memahaminya. Walaupun memang seharusnya comic bisa menyesuaikan menu komedinya untuk beragam penonton, tetapi sedikit banyak hal ini pasti mengurangi ketajaman joke andalan hingga delivery dari para “comic daerah”.

Segmen ini seperti sarat akan aroma balas dendam dari para comic asal luar Jabodetabek yang pernah menjajal panggung di Jakarta dan sekitarnya. Duet jebolan SUCA dan SUCI itu bertindak layaknya dalang sekaligus pengasam; Pandu, Rere, dan Erwin kali ini hanya melakoni tugasnya sebagai wayang.

Ketiganya lantas membawakan satu-dua joke yang telah dialihbahasakan sebagian ke bahasa Jawa. Hasilnya, persembahan Erwin tampak tak sesolid set show-nya, sementara Rere yang mengaku punya darah Suroboyo dari ibunya cukup berhasil melewati tantangan ini. Akan tetapi, bintang di segmen ini justru adalah Pandu.

Mungkin karena sudah berpengalaman menjadi “bulan-bulanan” para MC dan juri SUCA, Pandu berhasil menjadi bintang dengan mempertahankan keluguannya sembari membiarkan MC “memanggangnya” di atas panggung. Sesekali, ia membalas dengan melempar celetukan yang sukses membuat penonton makin tertawa lepas. Setidaknya gara-gara ini, saya jadi tahu bahwa sesi comic diajak mengobrol oleh MC dan juri yang lebih lama daripada bagiannya untuk ber-stand-up comedy di SUCA ada manfaat nyatanya bagi si comic itu sendiri.

Saya tak tahu apakah sesi bercanda bebas bersama MC seperti ini memang sudah jadi pakem #PREview di tiap turnya yang sejauh ini sudah menginvasi tiga kota dalam tiga tahun ini alias satu kota per tahun. Kalau belum, sepertinya tak ada salahnya untuk menambahkan sesi ini di kesempatan tur selanjutnya. Oh, dan saya menunggu edisi Comedy Sunday selanjutnya yang lebih baik dari edisi yang katanya adalah yang terbaik sejauh ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.