Juru Bicara: 4 hak yang bisa didapatkan dari sebuah perayaan Hari HAM

“It needs to be said. It needs to be addressed. Karena kita kebanyakan menghindari ngomongin hal-hal yang kayak gini.” – Pandji Pragiwaksono.

Koleksi DVD stand-up comedy special saya pertengahan 2017 ini bertambah satu: Juru Bicara Jakarta dari Pandji Pragiwaksono. Ujung dari tur dunia yang mampir ke 24 kota di lima benua tersebut menemani “saudara tuanya” di rak kamar saya, yakni Merdeka Dalam Bercanda. Ya, memang belum ada cakram optik berlabel Bhinneka Tunggal Tawa di sini, gara-garanya saya dulu sudah merasa cukup dengan menonton DVD-nya bersama teman-teman komunitas Stand-up Indo Malang, dan Mesakke Bangsaku karena saya menikmati langsung aksi Pandji saat mampir di Surabaya, sehingga saya waktu itu berpikir tidak perlu membeli DVD-nya – yang mana bagi saya itu kurang tepat, karena ternyata stand-up comedy special tersebut mengandung sejumlah bit terbaik yang pernah saya dengar.

Namun, Juru Bicara adalah cerita yang berbeda sedari awal.

Walaupun sudah menjadi satu dari 1.300-an penonton Juru Bicara Surabaya, 29 Oktober 2016 lalu, saya telah berminat menikmati sajian penutup si “Mr. World Tour” dalam versi digital sebelum penjualan DVD ini dibuka. Karena, pasti ada banyak perbedaan dari bagian serangkaian tur dan pertunjukan finalnya, mulai dari opener hingga – yang belum lama ini saya dapat dari pengakuan Ernest Prakasa – evolusi set list dari comic pelaku tur yang bersangkutan. Ulasan “provokatif” dari Habibul Afham yang menonton langsung perhelatan ini bersama lebih dari 3.000 orang di The Kasablanka, Jakarta, juga jadi faktor lain pendongkrak hasrat memiliki DVD ini.

Bagi penikmat stand-up comedy seperti saya, hal-hal tersebut sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk “berinvestasi” ke DVD Juru Bicara Limited Edition, apalagi ditambah bonus feature epilog dan dokumenter singkat dari world tour kedua milik juri Stand-up Comedy Indonesia (SUCI) Season 7 Kompas TV tersebut, plus tempelan kulkas berlogo Juru Bicara. Rasanya, hati jadi lebih ikhlas membelanjakan Rp300.000 di tahap pre-order untuk sebuah DVD stand-up comedy special yang konten intinya sudah saya lihat dari live show-nya.

Kalau ditotal, ini adalah biaya termahal saya sejauh ini untuk menikmati suatu judul stand-up comedy special, tapi amat setimpal, kok. Poin betapa spesialnya show ini bagi sesama comic dan comedy geek makin mencuat karena Coki Pardede dan Indra Jegel saja ikut duduk manis di bangku penonton usai “memanaskan” #JuruBicaraJKT. Seakan, dua opener itu tak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati penampilan empunya show atau malah hanya mengintip dari balik backstage. Saya sendiri telah merasakan serta mencatatkan kenikmatan lain dari DVD Juru Bicara dalam tulisan ini, sebagai berikut:

 

1. Belajar dari para ahli delivery

Juru Bicara Jakarta seakan menjadi panggung para comic dengan delivery berkelas. Coki sebagai opener cukup mengagetkan saya karena di setengah awal set-nya, ia sudah membahas kematian; pembahasan yang cukup “seimbang” dengan sang headliner dan lancar-lancar saja karena dieksekusi dengan apik. Saya pun sepakat dengan Habibul yang menggarisbawahi bagaimana Pandji beberapa kali juga menerapkan pola Coki dalam mengantarkan audience kepada punchline joke-nya, yaitu dengan menunjukkan perubahan pada intonasi. Jegel pun tak kalah lihai. Bit soal reality show Katakan Putus dan orang Melayu menjadi pemadam kebakaran amat lekat dengan dirinya. Efektivitas kalimat dalam setup dan delivery yang tenang jadi senjata terbaiknya dalam memerangkap persepsi penonton sekaligus membingkai ilustrasi joke-nya. Penutupan penampilannya selama 20 menit pun berhadiah standing applause dari sebagian hadirin malam itu.

Selain disuguhkan Coki dan Jegel yang punya pembawaan khas, delivery Pandji juga punya keajaiban riilnya tersendiri. Ceritanya, di epilog, Pandji mengaku mendapat tantangan dari seorang wanita “stakeholder” turnya yang waktu itu bertempat di Tokyo, Jepang. Si ibu ini merasa pertunjukan stand-up comedy tidak cukup menggelitik “funny bone”-nya, makanya ia pun tanpa sungkan mewanti-wanti Pandji sebelum naik panggung supaya secara khusus bisa menghibur dan tidak mengecewakannya malam itu.

Ternyata, comic pertama di Indonesia yang melakukan stand-up comedy keliling dunia itu berhasil menuntaskan misi tersebut. Menurut pengakuan si ibu tadi, adalah delivery Pandji yang membuatnya jauh lebih berhasil membuatnya mengakak daripada comic nasional ternama yang pernah ia undang dan tonton sebelumnya. Siapakah comic yang dimaksud itu? Jawabannya ada di DVD Juru Bicara!

 

2. Pakar yang berkomedi atau pelawak yang jadi pakar?

Sejak awal open mic enam tahun lalu, Pandji seakan telah terbingkai di banyak benak penikmat stand-up comedy sebagai “comic berbobot”. Embrio karakter itu lantas makin tumbuh, karena di stand-up comedy special perdananya ia tak hanya membahas legalisasi ganja, tetapi juga melayangkan kritik ke presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, dan pemerintah yang terlalu menganakemaskan Jawa daripada Papua. Namun, materinya terasa jauh lebih kompleks di Juru Bicara ini.

Jadi, apa saja yang disinggung Pandji di Juru Bicara? Banyak, dan Anda bisa melihat sendiri daftar bit-nya di belakang sampul DVD. Membeber set list adalah ciri khas yang sudah dipertahankan Pandji sejak Merdeka Dalam Bercanda, alias tiga kali ini dilakukan. Satu strategi unik untuk menggaet para window-shopper, saya rasa, di samping mengunggah teaser di YouTube-nya.

Tetapi, saya pribadi menyarankan agar Anda tidak melewatkan argumen dan kisahnya soal Aksi Kamisan dan Islam radikal.

Namun dari segi konten materi sendiri, nilai Juru Bicara malah sedikit di bawah Mesakke Bangsaku, yang di benak saya terpatri sebagai stand-up comedy special terbaik dari Pandji Pragiwaksono hingga saat ini dan punya payung premis yang amat “teduh”. Mungkin, pembahasan di Juru Bicara yang terlalu banyak dan variatif membuatnya kurang dalam menikam pemikiran saya saat menonton versi live maupun DVD-nya. Sangat tidak salah, tentunya, karena konsep dari Juru Bicara sendiri menyuguhkan Pandji sebagai perwakilan bagi banyak kalangan di Indonesia yang belum punya kesempatan atau power untuk berbicara pada kita semua. Setidaknya, menonton Juru Bicara setara dengan mendengarkan keluh kesah dari pelaku industri pertelevisian, pembela hak asasi manusia, pekerja kreatif, hingga pendidik sekaligus dengan dibubuhi beragam titik untuk tertawa.

3. Bonus yang menggugah selera

Extras dari kepingan DVD stand-up comedy special paling berkesan versi saya sampai sekarang adalah bagaimana Ryan Adriandhy membedah joke-nya tentang Power Rangers di From Tiny To Funny. Seperti terinspirasi aktivitas yang sama dari Jerry Seinfeld di YouTube, Ryan tak segan menunjukkan rahasia joke yang bekerja dengan amat baik waktu itu, dari kertas tulisan materinya sampai video ketika ia menguji materi tersebut di open mic.

Pandji memilih cara yang berbeda, walaupun sebenarnya ia jauh dari sekadar mumpuni untuk melakukan hal yang sama. Di Juru Bicara ini, ia memilih menyisipkan oleh-oleh yang ia rekam saat menjalani tur di luar negeri. Dari kelalaian orang tua di Tiongkok saat mengasuh anaknya di pinggir jalan hingga cuplikan aksi Yudha Khan yang asyik berkaraoke ria di Pretoria, Afrika Selatan, (beserta visualisasi panggung outdoor-nya yang ngeri-ngeri sedap itu), menjadikan setiap tuan rumah Juru Bicara seperti punya cerita impresifnya sendiri. Itu pun belum termasuk tempat-tempat monumental yang fotonya sudah beberapa kali diunggah Pandji di akun media sosialnya. Bagi orang-orang yang mungkin hanya mengincar lucunya saja dari DVD ini, bonus features Juru Bicara bagaikan hidangan pencuci mulut yang mengesankan, yang membuat rasa kenyang semata berubah menjadi pemikiran, “Saya ingin kembali ke restoran ini besok.”

Setelah video jalan-jalan, mungkin di DVD stand-up comedy special Pandji selanjutnya bisa memberi extras yang “lebih mendidik” dengan menggabungkan tutorial ala Ryan di atas, misalnya tentang bagaimana memanajemeni tur berskala internasional atau mungkin insight penting sekaligus menarik lainnya terkait industri komedi, sehingga bisa menjadi masukan untuk ratusan komunitas stand-up comedy di seluruh Indonesia.

4. Memetik inspirasi dari Pandji

Terdengar amat normatif, tetapi memang itu yang saya dapat. Di luar materinya yang berkesan, contohnya bit soal berkarya yang begitu tertanam di banyak netizen penonton Juru Bicara, closing statement Pandji di #JuruBicaraJKT yang bertepatan dengan Hari HAM Internasional itu mengungkap sisi lain tentang dirinya. Bahwa ketika ia sudah mewakili beberapa orang dan pihak untuk bersuara, ia tetaplah seorang manusia dan ayah yang berusaha menjadi figur untuk bisa dicontoh kedua anaknya.

Sisi ini membuat Pandji amat humanis, atau dalam bahasa lain sebagai pria dengan keluarga yang berjuang untuk mereka. Sama seperti orang tua kita di kehidupannya sehari-hari. Ini juga yang membuatnya jadi se-family man Ernest Prakasa atau Wawan Saktiawan dengan materi soal buah hatinya, walaupun dalam set list Juru Bicara ia tak berkeluh kesah soal itu.

Kendati demikian, saya menemukan kontradiksi dari ucapan Pandji. Maaf, tapi ini nihil keterkaitan dengan urusan Pilkada DKI Jakarta, kok. Di penutupan aksinya – tepatnya saat memberikan monolog soal bagaimana ia tetap bisa memelihara dan menghidupi mimpinya – Pandji menceritakan betapa susahnya menjalani world tour lengkap dengan beragam persiapannya, termasuk mengomposisi joke yang harus selalu bekerja di beragam penonton, tempat, hingga negara. Namun, di epilog, ia mengakui bahwa ada beberapa friksi di turnya kali ini, seperti keluhan diaspora di Leipzig, Jerman, lewat email dan status Facebook-nya tentang materi Juru Bicara soal Islam dan kecaman dari segelintir orang yang tersinggung di tengah-tengah jalannya Juru Bicara Balikpapan.

Tapi, hey, komedi memang tak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Setidaknya, Juru Bicara berhasil memuaskan ceruknya sendiri – yang walaupun kalau dilihat secara kuantitas, penonton dan pembeli Digital Download (DD) serta DVD-nya sebenarnya tak terlalu menceruk. Buktinya, DD Juru Bicara sudah diunduh 1.000 kali dalam seminggu dan pre-order DVD-nya sebanyak 100 keping ludes dalam hitungan menit saja.

 

DVD Juru Bicara Limited Edition sudah bisa ditebus mulai awal bulan Juni 2016 di WSYDNshop.com dengan jumlah 1.000 keping saja. Itu pun telah dipotong 100 buah untuk para pemesan pre-order. Jikalau 900 keping sisanya terlego semua, stand-up comedy special yang direkam pada 10 Desember 2016 ini tetap bisa dimiliki, tetapi tanpa cover limited edition. Asyiknya, mumpung stok masih ada, Anda pun bisa mendapatkan tetralogi stand-up comedy special Pandji Pragiwaksono dengan harga yang amat bersahabat. Selamat berburu!

 

*PS: Terima kasih juga saya sampaikan untuk admin WSYDNshop.com yang telah membantu saya dan tetap memproses pembelian pada akhirnya, walaupun saya sempat melakukan kelalaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published.