Kekuatan lelucon kodian

Hina, jika seorang comic membawakan joke milik orang lain, terlebih jika joke tersebut adalah lelucon kodian. Di dunia stand-up comedy yang mendewakan personalisasi dan “orisinalitas”, begitulah pandangan yang beredar dan dianut oleh pelakunya. Joke kodian, atau ada juga yang menyebutnya sebagai street joke, biasa dipahami sebagai lelucon yang sudah amat lazim terdengar dan beredar lama di tengah masyarakat.

Akan tetapi, lelucon kodian itu sendiri tak sepenuhnya nista.

Pandangan saya sedikit terbuka mengenai joke kodian setelah membaca prolog yang disampaikan oleh Audun Mortensen di buku sekumpulan lelucon dan anekdot karya filsuf Slavoj Zizek yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Mati Ketawa Cara Slavoj Zizek (2014). Dari penjelasan singkat Mortensen, alkisah ketika rezim-rezim komunis Eropa Timur di ambang kejatuhan, terdengar mitos populer bahwa ada divisi dari kepolisian yang bertugas untuk mengarang dan mengedarkan banyolan politik anti-rezim. Tujuannya “mulia”: sebagai alat stabilisasi masyarakat.

Lelucon yang bertebaran di tengah masyarakat tersebut dideskripsikan Mortensen “bersifat idiosinkratik [yang khas, istimewa, dan aneh dari individu], mewakili kreativitas unik bahasa, namun toh tetap ‘kolektif’, awanama, tanpa penulis, sekonyong-konyong ada dari antah berantah.”

Secara spesifik, lelucon kodian yang waktu itu mengandung humor politik dianggap mampu memberikan kebebasan bagi masyarakat untuk melepas ketegangan hingga menekan rasa frustrasi dan depresi. Di tengah masa yang tegang, humor dinilai perlu sebagai jalan keluar dari realitas yang menekan. Nah, di masa-masa inilah lelucon kodian – yang umumnya mengandung generalisasi atau streotipe seseorang atau pihak tertentu – menyebar luas.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, haram lelucon kodian masuk ke ranah stand-up comedy, tetapi di saat-saat tertentu justru bisa. Contohnya, di gelaran open mic dengan tema spesial khusus membawakan lelucon kodian yang sejauh pantauan saya di Twitter pertama kali dikenalkan oleh Stand-up Indo Surabaya, tepatnya pada 3 September 2014.

Alasan komunitas penyuplai comic-comic sekelas Tretan Muslim, Arif Alfiansyah, Dono Pradana, hingga Dodit Mulyanto itu adalah untuk “mengedukasi audience biar tahu bedanya joke [untuk] stand-up comedy dan joke lainnya.” Konsep yang sama kemudian mereka usung ulang setahun berselang, 18 November 2015. Menariknya, komunitas lain pun tak mau ketinggalan: Stand-up Indo Jakbar terinspirasi untuk menghelat acara serupa pada 8 Januari 2016, Stand-up Indo Palu pada 3 Maret 2016, disusul Stand-up Indo Jogja pada 20 Mei 2016.

Dengan adanya replikasi beberapa event yang serupa ini, tampaknya lelucon kodian masih punya sihir yang luar biasa untuk menghibur pendengarnya, kendati konteksnya kalau di tengah masyarakat umum di Indonesia – apalagi di era terkini, lelucon kodian hanya sekadar pemantik alternatif untuk tertawa.

 

(sumber gambar: huffingtonpost.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published.