Meresapi komedi dan memahami strategi Yudhit Ciphardian

“Saya ini orang Katolik yang biasa-biasa saja,” kata Yudhit Ciphardian di hadapan audience Joyful Catholic yang berusaha untuk menghibur sembari mengekspresikan pendapatnya tetapi tanpa tendensi menggurui. Soalnya, ia mengakui sendiri kalau punya dosa yang sama dengan orang-orang di hadapannya, sehingga ingin sesi penumpahan pemikirannya ini dimaknai layaknya sesi curhat dari orang dekat. Walau begitu, ia tetap ingin mengajak mereka dan kita semua untuk beragama dengan suka cita, tanpa perlu melakukannya secara ekstrem.

Show yang dihelat pada 13 Mei 2017 di ruangan A301 Universitas Katolik Widya Mandala itu kalau boleh diklasifikasikan memang menyasar pasar yang spesifik, yaitu generasi muda Katolik. Namun, pesan yang disampaikan Yudhit dalam show-nya yang didahului oleh enam opener itu sangat universal.

“Dramaturgi” Yudhit tercermin di sini. Anda yang sebatas tahu pemilik special show Indonesucks ini dari YouTube atau televisi, bisa dibilang Anda belum melihat Yudhit yang sebenarnya. Sangat berbeda dengan penampilannya sewaktu di Stand-up Comedy Indonesia (SUCI) Season 4 Kompas TV, Yudhit di Joyful Catholic membawakan materi yang jauh lebih jujur dengan delivery yang tidak sepenuhnya deadpan.

Dalam hampir satu jam penampilannya, materi Yudhit hari itu bisa dirangkum dalam tiga bagian. Bagian pertama adalah materinya sehubungan dengan penyakit jantung yang dideritanya, lalu lanjut ke refleksinya sebagai umat Katolik, dan ditutup dengan materi tentang kasus yang menjerat Gubernur DKI Jakarta yang mengakhiri masa abdinya tahun ini, Basuki Tjahaya Purnama atau yang akrab dengan sapaan Ahok. Mari mulai mengulasnya secara runtut.

Pada bagian pertama, Yudhit berhasil membuat penonton tertawa di atas penderitaannya yang hampir meninggal karena penyakit jantung. Menulis materi seperti ini tentu tidaklah mudah dan berisiko. Sebab, premis besarnya adalah sebuah tragedi yang riil dan dialami sendiri oleh si komika. Nah, Yudhit berusaha mengajak penonton menertawakan ironi di dalamnya. Bentuk komedi dark seperti ini biasanya diletakkan oleh komika-komika lain di tengah show karena bisa memengaruhi penampilan ke belakang kalau tak berhasil. Namun, Yudhit berani meletakkannya sebagai pembuka dan berkerja dengan amat baik.

Materi yang dibawakan Yudhit pada babak kedua ini secara penulisan sangat rapi. Tampak sekali kalau materi ini bukan materi yang benar-benar baru. Walau tetap membahas agama yang ia anut sebagai payung besar materinya, Yudhit tidak melucukan Tuhan. Alih-alih mencari-cari keanehan Tuhan, ia mengkritisi kelakuan-kelakuan umat Katolik yang menurutnya tak sesuai atau patut. Lihat saja saat ia membahas tingkah aneh jamaah yang ke gereja cuma di momen Natal dan Paskah, mereka yang sibuk dengan handphone-nya di gereja, hingga mereka yang buta akan ajaran agamanya sendiri.

Bagian tengah dari set Yudhit ini punya titik tawa yang cukup rapat. Namun, sangat berisiko jika materi di bagian kedua ini dibawakan ke penonton awam. Sebab, referensi yang digunakan begitu dekat dengan orang Katolik sendiri.

Penutup show ini adalah pembahasan tentang Ahok, dengan premis penting bahwa ia bukanlah penista agama. Di bagian ketiga ini, performa Yudhit kalau dihitung secara LPM (Laugh Per Minute) sungguh rendah. Namun pembahasannya tentang Ahok begitu detil dan logis, sehingga tetap memikat penonton.

Untuk membantunya menjelaskan tentang kesalahan beberapa orang di Indonesia, di sesi ini Yudhit menggunakan klasifikasi tahapan dalam beragama yang ia kutip dari pemikiran presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Yudhit ingin mengarahkan penonton untuk meraih tingkatan terakhir dalam tahapan itu, yakni cinta pada kemanusiaan, ketika kita tak lagi peduli pada agama seseorang tetapi mau mengasihi siapa pun. Agaknya, bagian ini cukup menegur penonton tentang apa yang harus mereka lakukan ke depannya dalam bermasyarakat.

Selain hikmah dari joke yang disampaikan Yudhit, show ini secara implisit mengandung pelajaran berharga bagi banyak comic. Sebagai komika yang ingin berkarya, penting sekali untuk nekad menginisiasi panggung sendiri sebagai batu loncatan dan mencari pasar baru. Yudhit menerapkannya dengan merengkuh pasar orang-orang Katolik lewat materi yang hampir eksklusif. Hal serupa sebenarnya dilakukan juga oleh Firman Singa, yang tahun ini membuat sebuah show khusus untuk memperingati hari jadi sebuah band punk yang namanya amat tak asing di Malang, Begundal Lowokwaru.

 

*Tulisan ini telah mendapatkan persetujuan untuk dimodifikasi dan dimuat ulang dari penulis aslinya, Adit MKM. Silakan cek ulasan aslinya dari Adit untuk mendapatkan gambaran lengkap soal bagaimana seorang Katolik menikmati materi dan penampilan Yudhit Ciphardian dari blognya di link berikut: themkm.wordpress.com/2017/05/16/joyful-catholic-mencintai-lebih-penting-daripada-sekedar-beragama/.

(sumber gambar: Firda)

Leave a Reply

Your email address will not be published.