Bagaimana menaklukkan lebih dari 1.000 penonton

Membuat orang tertawa tidaklah sederhana, apalagi yang jumlahnya ribuan. Tak banyak orang yang sejago itu, tetapi setidaknya, lima komika Stand-up Indo Malang ini pernah menuntaskan misi tersebut. Kali ini, mereka mau membuka kartu dalam rangka mengumbar tips dan trik hingga ritual untuk menghibur ribuan penonton berdasarkan pengalaman mereka.

 

Bobby Darwin

Mengaku baru mendapatkan panggung jumbo pertamanya di Gasgasan 2017 yang lalu saat membuka special show Wawan Saktiawan di hadapan 4.000 lebih penonton, rapor penampilan Bobby kalaupun dibuatkan layak nihil warna merah. Tato yang menyelimuti tangannya bukan berarti ia adalah comic yang cranky di atas panggung, justru pembawaannya cenderung kalem hingga mudah diterima penonton malam itu.

Untuk lebih melancarkan misinya sebagai komika pembuka, ia memilih untuk menggunakan strategi yang serupa dengan Irul Nasution, yang terbilang sukses saat didapuk menjadi opener special show perdana Wawan di venue yang sama dengan penonton yang selisih sedikit – 3.500-an orang. Waktu itu, Irul masuk ke panggung diiringi lagu anak-anak yang ternyata dirasa sudah lucu oleh audience, bahkan sebelum mengucapkan salamnya yang khas atau masuk ke materinya.

“Nah, makanya aku pakai lagunya NDX [grup musik asal Yogyakarta] kemarin, ditambah joget dikit untuk dapat tawa cepat.”

 

Fajar Ardiansyah

Merupakan salah satu comic Stand-up Indo Malang yang kerap dijadikan standar oke dalam hal delivery, Fajar memulai langkahnya sebagai komika berbahasa ibu. Ternyata, karirnya malah lebih menanjak setelah banting setir menjadi komika berbasa Inggris. Selain pernah memijak panggung HUT ke-16 Jawa Pos Radar Malang tahun 2015 dan Metro TV On Campus tahun 2013 yang keduanya dihadiri ribuan penonton, ia juga pernah tampil di Jakfringe dan @america, Jakarta.

Untuk mulai “membantai” penonton dalam skala besar, ia biasa memakai teknik riffing sebelum menyampaikan set-nya. “Riffing tempat, ruangan, atau banyak hal yang satu sama lain saling sama dengan penonton seperti biasanya. Karena agak susah pastinya melakukan riffing perorangan, meskipun bukan mustahil.”

“Untuk ‘ritual’ apa ya… siapkan celana yang pas dengan lingkar pinggang, sering-sering ke kamar mandi untuk menurunkan tensi. Dan biasanya untuk agak menghilangkan nervous, terkadang ‘sombong’ ke diri sendiri juga bisa, seperti berwacana, ‘Ah, mereka penonton kok, mereka datang untuk nonton saya. So I am the star here, no need to be nervous karena bit-bit saya sudah teruji’.”

 

Firman Singa

Pasti sudah banyak yang mahfum dengan komika yang satu ini. Meski terangkat namanya sebagai salah satu finalis Stand-up Comedy Indonesia (SUCI) Season 6 Kompas TV, Firman sudah sering tampil di panggung besar sampai yang sulit sekalipun, seperti gig musik, bahkan sebelum ia bisa dijumpai di televisi.

Menurutnya, tampil di hadapan penonton yang amat banyak tak jauh beda dengan panggung yang skalanya lebih kecil. Ancamannya pun sama: ketakutan tidak bisa menghibur audience. “Yang bikin grogi pas tampil di depan banyak orang biasanya faktor takut ngebom. Cara menanggulanginya bisa dengan persiapan yang matang; ‘badani’ materi dulu; dan benar-benar paham materi, act out, timing, dan ritme emosi penonton.”

Selain percaya pada materi yang akan dibawakan, comic asal Singosari ini juga menekankan pentingnya persiapan mental termasuk memperbaikinya. “Kalau perlu, sugesti diri sendiri bahwa penonton lebih rendah dibanding kamu dalam segala hal. Tapi, outputnya harus tetap menghormati penonton.”

 

Fito Ditapradja

Talenta langka yang dimiliki komunitas Stand-up Indo Malang, atas dasar kemampuan menulis joke observasi dan joke yang clean. Walaupun di komunitas terhitung senior, saat pertama kali open mic hingga mendapatkan panggung Stand-up Night yang tak selang lama, ia masih berstatus sebagai pelajar SMA.

Mengaku tak memiliki jurus dalam penyusunan materi untuk gig di panggung besar, Fito kerap membeli perhatian dan fokus penonton cepat-cepat dengan mengucapkan apresiasi pada pihak penyelenggara, panitia, dan lainnya yang sekiranya bisa mengundang riuh tepuk tangan. Kemudian, ia menungganginya dengan materi yang sudah dipersiapkan.

Sementara itu, kesiapan psike dan pendongkrak adrenalinnya biasa ia dapatkan dari penonton. “Dari sisi persiapan mental, aku cek venue pas lagi kosong, pas penonton belum ada yang masuk. Keliling saja, terus nyobain panggung, membuat diri nyaman. Setelahnya aku keluar dan langsung ke backstage. Waktu acara mulai, barulah mengintip kursi penonton dari backstage.”

 

Mohammed Sabeq

Penulis buku ini mulai bersinar pasca menjuarai lomba stand-up comedy Metro TV On Campus dengan 3.000 penonton lebih di Dome Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2013 lalu. Sejak saat itu, kilaunya kian menjadi hingga menjadi finalis SUCI Season 6.

Merasa lebih grogi kalau “cuma” ditonton kurang dari 100 orang, Sabeq mengaku amat menikmati panggung dan venue akbar. “Kalau di venue yang gede, potensi untuk closing dapat tawa yang besar, ada.”

“Saya pikir kalau penontonnya lebih dari 1.000, misalnya, malah enak. Enggak ada beban untuk kontak mata, jadi nge-riffing apa pun enak.”

 

*Terima kasih Alfiansyah atas koreksinya*

(sumber gambar: Ajib)

Leave a Reply

Your email address will not be published.