Sebuah kedengkian pada penonton Setengah Jalan Jakarta

Sabtu, 13 Mei 2017, Ernest Prakasa merampungkan rangkaian tur keempatnya sepanjang enam tahun berkarir sebagai seorang comic. Seperti biasa dan yang sudah-sudah, Jakarta, persisnya di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, menjadi persinggahan terakhir stand-up comedy show keliling Indonesia berjudul Setengah Jalan itu.

Dari pengamatan saya, muncul beragam testimonial positif dan ucapan selamat yang disanjungkan pada orang penting di balik Cek Toko Sebelah tersebut pasca #SetengahJalanJKT. Namun, mungkin, saya seorang penikmat sekaligus penonton yang kurang bersyukur. Sebab, walaupun Malang sempat disinggahi, tepatnya sebagai kota keempat (karena di Makassar ada kendala), saya masih merasa iri kepada para penonton show yang dihelat pada 13 Mei 2017 itu; sebabnya pun sepele.

Alasannya, bukan karena gedung yang lebih mewah dan besar atau turunnya jajaran Hahaha Corp. yang lengkap di atas panggung, atau disuguhkannya battle unik dari dua komika berkursi roda: Dani Aditya dan Adit Apriansyah. Api cemburu kecil yang menyala di benak saya disebabkan oleh ketidakmampuan saya menikmati evolusi set sang pemilik show yang seharusnya sudah mencapai peak point-nya, baik dari penambahan dan pembawaan joke maupun rewriting-nya.

Ya, kami penonton di Malang memang sedikit lebih beruntung daripada penonton di tiga kota sebelumnya, tetapi kalau dibandingkan, kami juga tak sehoki penonton Setengah Jalan Jakarta.

Saat sesi sharing bersama teman-teman Stand-up Indo Malang pasca #SetengahJalanMLG, 14 April 2017, Ernest mengakui sendiri kalau di kota yang selalu ia kunjungi setiap melakukan tur nasional ini, ia membawakan sejumlah joke baru dan menambahkan yang sudah ada, misalnya di rangkaian joke soal alis cewek. Set yang ia siapkan di awal setiap tur pun sudah lazim bertambah serta menguat saat sampai di kota terakhirnya nanti, kendati ada kans bongkar pasang atau susun ulang set juga akan terjadi.

Mungkin, kedengkian ini adalah tanda bahwa ke depannya saya seharusnya menyempatkan untuk menonton stand-up comedy tour seorang komika sebanyak dua kali, yaitu di awal dan di kota buntutnya. Tentunya bukan untuk apa-apa, melainkan demi kebahagiaan diri sendiri agar rasa keki sepele ini tak muncul lagi sembari menikmati evolusi si komika itu sendiri dalam penulisan dan delivery-nya.

Ngomong-ngomong soal #SetengahJalanMLG, ada sedikit catatan yang saya himpun dari acara stand-up comedy show yang untuk pertama kalinya bertempat di Kartini Imperial Building, Malang, itu dengan fokus ke penampilan para komika pengisinya.

Dengan latar belakang panggung kain hitam plus nama dan logo tur di tengahnya, konsep seperti ini mengingatkan saya pada Illucinati. Namun yang sedikit membedakan, terdapat gimmick yang dimunculkan panitia di panggung untuk membawa kesan “jalanan”, seperti traffic cone dan penunjuk jalan. Tiketnya yang dibuat ala tiket pesawat makin memunculkan kesan tersebut. Berbeda dengan Illucinati ketika panitia mengenakan pakaian khas tradisi Tionghoa. Rasanya, hal sederhana seperti ini cukup berkontribusi dalam memikat dan membuat betah Ernest untuk show di Malang.

Kalau dari segi venue, Kartini Imperial Building memang berkapasitas besar hingga bisa menampung lebih dari 600 kursi dan beratap tinggi. Dampaknya, tawa memang tak bisa fokus menghujam ke arah panggung. Akan tetapi kalau orientasinya mengajak makin banyak orang untuk berbahagia, pemilihan venue ini tak ada salahnya.

Soal opener dan headliner Setengah Jalan Malang, begini pengamatan saya.

Adit MKM

Sebelum ia muncul dari belakang panggung, saya sudah penasaran dengan penampilan Adit. Kira-kira, akan seperti apa aksinya tanpa MC atau orang lain yang mengisi panggung sebelumnya, yang biasanya bertugas mengatur mood penonton. Bukannya meremehkan kemampuannya, konsep dengan hanya “memanaskan” audience lewat voice over yang dilakukan dengan baik oleh Ajib terbilang sangat jarang dilakukan sebelumnya, apa lagi di sebuah special show. Namun, Adit membuktikan diri lebih dari sekadar layak untuk mengisi panggung itu dengan bantuan yang seakan-akan nihil dari comic lain.

Jarang saya lihat di open mic, comic yang juga kreator kanal YouTube #MKMLogic itu menggunakan pengulangan punchline yang rapi. Twist dari joke soal kebencian adiknya yang absurd pada polisi ia ulang di sejumlah titik, termasuk di akhir set. Menyenangkan, walaupun singkatan plus gombalan dari “MKM” saya rasa sudah waktunya untuk dipensiunkan. Overall, memuaskan sekali.

Bit Terbaik: Teroris di Gereja.

Muchamad Bachaq

Terhitung sebagai anggota baru di Stand-up Indo Malang, kemajuan Bachaq cukup kencang. Butinya, panggung besar pertamanya langsung ditugaskan untuk membuka tur Ernest Prakasa. Dengan style deadpan yang bergantung pada joke one-liner, Bachaq membawa kembali nuansa yang sudah lama tak dijumpai di komunitas ini.

Comic deadpan kerap dinilai dari keberhasilannya menyampaikan joke yang konsisten dengan style-nya dan Bachaq lolos dari indikator tersebut. Set-nya rapi dan tak gentar saat ada punchline yang tawanya tak semenggelegar sebelumnya. Saya pribadi menunggu set matang dan panggung besarnya selanjutnya. Stand-up Night Malang, mungkin?

Bit Terbaik: Kuliah di Fakultas Perikanan.

Aci Resti

Juara Stand-up Comedy Academy (SUCA) Season 2 Indosiar ini amat membawa penyegaran. Ketika di empat tur sebelumnya Ernest selalu membawa comic pria sebagai pembuka, Aci mencatatkan sejarahnya sendiri di tengah krisis comedienne di Indonesia, termasuk di Malang. Penampilannya secara gampang saya bagi menjadi dua babak: sebelum melepas dan sesudah melepas jaket. Di babak kedua, kompetitor Arafah Rianti ini lebih liar lagi dalam menguras tawa.

Selama 15 menit, ia tampil dengan keriaan yang biasa ia pertontonkan di SUCA. Pembawaannya tak jauh berbeda, termasuk delivery yang santai dan suara yang memekik (bedanya sangat terasa, terlebih ia masuk setelah Bachaq). Bedanya, materinya lebih “off-air” saja. Seperti pemilik tur ini, saya pun penasaran dengan evolusi set Aci saat di finale.

Bit Terbaik: Endorse Kolam Pancing.

Ernest Prakasa

Walaupun ayah dua anak itu sudah menjanjikan bahwa show ini bertemakan keresahannya soal umurnya yang sudah setengah dari usia rata-rata orang Indonesia, sebenarnya saya menantikan pembahasan tersendiri soal polemik Ernest terkait cuitannya pada Zakir Naik. Selain argumentasi pembelaan, saya pada dasarnya juga ingin mempelajari bagaimana ia mengambil joke dari “tragedi” tersebut.

Meski tak ada bit khusus soal itu, tidak masalah. Saya tetap menikmati penampilan Ernest yang membuka joke soal acaranya yang bertepatan dengan Jumat Agung yang sempat ia tweet premisnya beberapa jam sebelum naik panggung.

Yang membekas bagi saya ialah bagaimana ternyata ia sudah menyiapkan “perlakuan” khusus terhadap operator follow spot yang lengah. Katanya sih, hal ini lazim terjadi di banyak kota dan bisa sewaktu-waktu ia keluarkan ketika penyorot aksinya di atas panggung tak cekatan. Tapi entahlah, saya belum tahu apa label yang tepat untuk mengklasifikasikan lelucon ini di kamus stand-up comedy. Ada yang bisa membantu?

Secara keseluruhan, Setengah Jalan Malang tak seserius yang saya bayangkan. Ernest tetap santai dalam komedinya seperti biasa, termasuk saat ia melempar argumen yang cukup berisi tentang bagaimana manusia tak perlu hidup terlalu lama serta “dukungannya” terhadap Young Lex. Porsinya membahas soal umur juga tak mendominasi dan hanya disampaikan di awal. Topik sisanya lebih santai tanpa membuat saya mengernyitkan alis dan dahi, apalagi saat set ditutup dengan bit soal anaknya yang seperti sudah menjadi rutinitas baru Ernest sejak Happinest.

Bit Terbaik: Panjang Umur Itu Tidak Enak.

Sampai bersua di tur kelima di Malang, Koh! Terima kasih atas reka ulang fotonya dua tahun lalu! 😀

 

(sumber gambar: Firda)

Leave a Reply

Your email address will not be published.