Gasgasan 2017: Anak kedua, special kedua Wawan Saktiawan

Lebih dari 4.200 penonton memadati Graha Cakrawala Unversitas Negeri Malang (UM), Sabtu 12 Mei 2017. Begitu klaim yang digaungkan MC Gasgasan 2017, Desilo Yuda dan Agus Juned. Namun saya yakin, warga Malang dan kota-kota di sekitarnya yang ngeluruk para comic yang namanya terpampang di poster jumlahnya lebih dari itu. Sebab, saya sendiri mengantongi kuitansi bernomor 5.000-an dan melihat langsung kalau di tribun sampai ada penonton yang duduk di tangga karena kehabisan kursi.

Saya yakin, mereka yang datang tak akan merasa percuma walau tak bisa tertawa hingga satu atau dua hari pasca dibahagiakan selama lebih dari tiga jam di acara ini.

Pertama-tama, mari mengapresiasi para panitia dari UKM KOPMA dan LP3ME UM yang dibantu armada dari Stand-up Indo Malang yang sudah mengadakan show sebesar itu. Tak mudah mengkoordinir massa yang begitu besar dengan antusiasnya yang tinggi untuk bertemu idola masing-masing hingga menyiapkan panggung yang mewah. Mungkin, ada yang dongkol karena dicegah panitia saat ingin meninggalkan venue sebelum acara bubar, tetapi saya yakin rasa bahagia yang dibawa pulang lebih besar.

Lalu, tulisan ini tentu saja sekaligus menjadi ucapan selamat untuk Wawan Saktiawan yang sudah meletakkan standar stand-up comedy special yang begitu tinggi di Indonesia. Tak hanya bagi comic-comic Stand-up Indo Malang dan komunitas lain di Jawa Timur, tampaknya special show yang juga diramaikan oleh para calo ini juga dengan mudah mengintimidasi comic lain di Indonesia, baik yang sudah mapan maupun belum. Walaupun, seperti yang diumbar sendiri oleh empunya show, “Kalian mau datang karena tiketnya cuma Rp25.000 kan?” tetapi, dua special show yang sudah ditelurkan bapak dua anak itu sudah layak masuk buku besar stand-up comedy Indonesia.

Kemudian, bagaimana penampilan para lineup semalam? Untuk membuat Anda yang tidak sempat datang lebih menyesal, saya coba rangkumkan hal dan momen memorable dari penampilan Wawan Saktiawan beserta tujuh pembukanya seobjektif mungkin kendati saya tak memungkiri sisi subjektifnya masih begitu kentara.

Bobby Darwin

Meski berstatus opener karena “belum berprestasi”, sebenarnya meletakkan Bobby di tengah acara malam itu pun tak masalah. Set dan tawa yang dihasilkannya padat dan menyenangkan untuk ditonton. Walau diperkenalkan sebagai bapak satu orang anak, materi ketua komunitas Stand-up Indo Malang malam itu lebih ringan dari biasanya. Ceritanya sebagai penampil sekaligus penjual tiket di Gasgasan 2017 amat remeh, tetapi vital dalam set seorang opener karena berhasil mendapatkan izin tertawa penonton dengan mudah lewat self-depreciating yang tak standar.

Bit Terbaik: Sunat Online.

Firman Singa

Keluar dari backstage dengan jaket kulit hitam, saya sempat optimistis Firman bakal bermain-main dengan personanya sewaktu di Stand-up Comedy Indonesia (SUCI) Season 6. Meleset, tetapi ia meresapi jiwa punk dalam materinya malam itu. Bentuknya semacam hasrat untuk membebaskan diri dari belenggu pemikiran masyarakat yang menganggap agama sedang tabu untuk diperbincangkan belakangan ini.

Dengan pembahasan seputar agama, Firman bermain dengan ketidaknyamanan sejumlah orang malam itu dan berhasil. Lucunya, ia malah sedikit goyah di tengah saat membahas bisnis pangkas rambutnya yang kadar sensitivitasnya kalau ditakar justru lebih rendah dibandingkan mayoritas joke-nya malam itu.

Bit Terbaik: Tanah Makam Susah di Jakarta

Mohammed Sabeq

Rasanya, ini pertama kalinya saya menonton comic lain sedang show, tapi ikut deg-degan bersamanya mendekati ujung set. Sabeq menjadi Sabeq malam itu: anak pesantren pendatang dari Makassar di Jawa yang ternyata tak religius-religius amat. Membawakan sejumlah bit lama dengan sedikit rewrite yang juga bernuansa agama walau tak sekental Firman, Sabeq tetap panen tawa dan diserahi applause break di beberapa titik.

Tensi naik saat ia membahas isu pembubaran dan sepak terjang suatu organisasi masyarakat (ormas) belakangan ketika hampir closing. Saya pikir, Sabeq melakukan perjudian dan untungnya tetap mendapat dukungan dari penonton untuk menutup malamnya dengan menyenangkan. Penonton seperti sepakat dengan argumen mahasiswa S2 itu, sehingga saya nilai penampilannya tereskalasi dengan rapi.

Bit Terbaik: Beli Bola Pingpong.

Tretan Muslim

Fans Muslim dengan act-out-nya yang di luar batas wajar tingkah manusia dan comic pada umumnya mungkin sedikit kecewa malam itu. Sebab, Muslim hanya berguling sekali (secara harfiah) di panggung. Sayang memang, terlebih jika pernah melihat Muslim di panggung yang sama menggemuruhkan Graha Cakrawala saat dengan lincah ke sana ke mari mengilustrasikan atau menyampaikan punchline-nya.

Namun ini juga menjadi pembuktian bahwa comic yang baru-baru ini tersohor atas kemampuannya memotong rambut itu pun begitu jago di verbal. Pandangan saya pada Muslim malam itu sebagai comic berkharisma kian solid. Dari pengamatan saya selama beberapa kali ia manggung di Malang, saat Muslim membuka joke di premis atau setup-nya saja, perhatian penonton telah tercurah sampai ada yang sudah tertawa.

Bit Terbaik: Mencontek Saat Ujian

Sadana Agung

Akhirnya, kesampaian juga menonton Sadana secara langsung. Sudah amat penasaran sejak sering diganjar kompor gas di SUCI Season 6, saya rasa semalam Sadana telah membuktikan diri sebagai komika yang di atas rata-rata walau cuma tampil kurang dari 20 menit. Ingat joke-nya tentang orang sungkanan yang suka senyum-senyum malu itu? Ia membawakannya lagi tak lama setelah namanya dipanggil di Gasgasan 2017 dan masih direspons dengan tawa.

Tapi, fokus saya justru ada pada kemampuan comic dari Dusun Deresan itu dalam mengonstruksi ulang suatu peristiwa, tepatnya saat membahas seorang siswi yang mau bertindak senonoh dengan iming-iming uang Rp10.000. Mungkin tidak nyaman bagi sejumlah orang, tetapi pengandaiannya seperti valid dan penonton tetap mau mengikuti hingga bit itu tuntas.

Selain itu, kelihaian Sadana dalam menanamkan satu dua punchline untuk digali lagi di joke selanjutnya ia pertontonkan kembali dan sukses mempercantik set yang rapi sekaligus nihil miss.

Bit Terbaik: Pulang Malam Lewat Hutan.

Indra Jegel

Giliran sang juara SUCI Season 6 naik panggung, juga membawa gimmick khasnya selama berkompetisi berupa pantun yang sampiran awalnya “petir bukan sembarang petir”. Sama seperti Sadana dan komika pada umumnya yang bertandang ke Malang, Jegel membuka penampilannya dengan joke berupa perspektif pendatang yang datang ke Malang. Ia pun tak ragu menyebut Gang Macan, yang memang sudah akrab dijadikan rujukan punchline selain Songgoriti beserta sejumlah kawasan yang dianggap ndeso.

Kemampuan membangun theater of mind yang sering didengar pencinta stand-up comedy dari Indra Jegel ia tunjukkan dalam sejumlah joke, seperti saat ia membahas kue pepek dan dunia malam di Jakarta. Penampilannya secara keseluruhan memuaskan, kendati saya pribadi berharap pemilihan bit-nya lebih baik dari yang semalam. Walau begitu, hal ini malah membuat saya makin tak sabar menonton Jegel dari DVD Juru Bicara saat ia membuka special show Pandji Pragiwaksono, yang dijual secara pre-order mulai 22 Mei mendatang.

Bit Terbaik: Duo Serigala

Dodit Mulyanto

Tak salah MC malam itu menyebut comic yang satu ini sebagai Justin Bieber-nya stand-up comedy. Magnet bagi banyak penonton malam itu menghibur dengan teramat santai menggunakan bahasa Jawa yang dominan. Dodit juga menyempatkan “sharing kebahagiaan” yang dulu di SUCI Season 4 sebatas jumlah followers, kini mencakup hal-hal yang lebih riil.

Di tengah penampilannya, ia menggenjreng gitarnya untuk menyanyikan potongan lagu dari Armada berjudul Asal Kau Bahagia dalam dua versi. Yang pertama adalah versi aslinya, dibawakan dengan khidmat sambil diiringi suara dari para penonton. Lalu, versi kedua yang diklaim Dodit justru sebagai versi aslinya berdasarkan rekaan peristiwa dari liriknya, mengalun dan dibalas dengan tawa ribuan orang yang seakan sepakat dengan argumen “Mas Mul” OK-JEK.

Bit Terbaik: Membeli Kambangan (Pelampung Pancing)

Wawan Saktiawan

Ini. Orang. Gila.

Tapi, besar kans ia juga adalah orang yang paling bahagia malam itu.

Seperti sadar kalau bensin penonton untuk tertawa sudah hampir habis, Wawan memulai set-nya pukul 21.32 WIB dengan sangat santai: tidak memaksa hadirnya tawa cepat seperti beberapa penampil sebelumnya, tapi juga tetap teguh ketika tawa tak maksimal karena mungkin “kotak tertawa” kami belum pulih benar. Memulai dengan bit sederhana yang teramat ia kuasai – yaitu seputar kampus yang dibumbui olokan ke kota-kota di sekitar Malang yang akrab dengan UM, termasuk kota asalnya, Kediri – jebolan Stand-up Comedy Academy (SUCA) Season 2 Indosiar ini mulai “galak” di seperempat set ketika membahas lika-liku karirnya di dunia stand-up comedy, dari dibayar rundown acara sampai ditinggal kabur EO. Tawa penonton pun tergenjot lagi.

Sedikit berbeda dengan special show perdananya, yang digelar 27 Oktober 2015 lalu, Wawan membawa dua gimmick ke panggung: sebuah galon air mineral dan semacam tirai yang bagian tengahnya terbuka. Dua properti itu ia gunakan untuk materi di akhir set-nya.

Oh, dan jangan lupakan kemunculan foto putri keduanya yang sempat ditampilkan selama beberapa detik di layar. Ya, Wawan bersama istri awal pekan ini memang baru dianugerahi putri kedua. Momen ini jugalah yang mengharuskan istri dan anak pertamanya tidak bisa datang dan mendukung sang ayah. Maka dari itu, satu jam berselang ketika Wawan mengakhiri penampilannya, tak ada penutupan penuh haru seperti dipertontonkan di special show pertamanya.

Bit Terbaik: Kelahiran Anak.

Jadi, siapa yang sudah menunggu special ketiga Wawan Saktiawan? Saya pribadi menunggu mas Wawan membahas perspektif dan pengalamannya yang lebih personal seperti saat ia open mic pertama kali setelah close mic dari SUCA, misalnya. Saya juga tertarik menua bersama materi comic yang akrab dengan “topi copet” itu soal kedua anaknya. Mengenai penonton, rasanya akan lebih menarik kalau stand-up comedy special Wawan Saktiawan selanjutnya dihelat secara terbatas di venue yang lebih kecil. Sebab, pembuktian dari segi kualitas materi maupun kuantitas penonton sepertinya sudah tercentang dobel dari dua special ini.

Kira-kira, kami yang ingin nonton special ketiganya mas Wawan harus menunggu sampai kelahiran anak ketiga dulu atau gimana nih? 😀

 

(sumber gambar: Ajib)

Leave a Reply

Your email address will not be published.