4 Momen menyenangkan saat nonton (lagi) Merem Melek Tour – The Finale

Sejarah penting stand-up comedy di Indonesia sebagai industri ditandai pada 28 Desember 2011. Di Usmar Ismail Hall, Pandji Pragiwaksono menghelat stand-up comedy special pertama di Tanah Air, Bhinneka Tunggal Tawa.

Namun, 21 April 2012 juga menjadi saat yang tak kalah penting. Merem Melek Tour, stand-up comedy show keliling pertama di Indonesia, dimulai. Meski sudah hampir lima tahun berlalu, menikmati aksi Ernest Prakasa selama lebih dari 50 menit lewat kepingan DVD ternyata masih sukses menghadirkan kegembiraan, setidaknya bagi saya.

Mengapa Merem Melek Tour – The Finale masih layak tonton? Ini empat alasan yang saya kumpulkan setelah menonton kembali show yang direkam pada 10 Juli 2012 tersebut.

 

1. Dapat info penting
Saya pribadi merasakan manfaat menonton stand-up comedy dari comic yang premis materinya berbasis fakta penting plus informatif. Saat di kelas, misalnya, saya pernah menyebutkan nama John McCain di tengah diskusi tanpa googling terlebih dahulu ketika dosen dan teman-teman saya lupa atau bahkan tidak tahu siapa kompetitor Barrack Obama di Pemilu AS tahun 2008. Saya perlu berterima kasih pada Chris Rock dan Kill the Messenger-nya untuk itu.

Pun dengan Merem Melek Tour – The Finale. Mengetahui trivial sejarah Gedung Kesenian Jakarta, seperti tahun berdiri, awal-mula, hingga perkembangannya sekarang, menjadi experience tersendiri bagi audience, baik bagi mereka yang fisiknya ada di sana waktu itu maupun bagi yang belum pernah ke sana seperti saya. Atau saat Ernest mencuplik kisah masa lalu ketika warga berdarah Tionghoa di Indonesia diharuskan memiliki ‘nama Indonesia’, pandangan penonton tentang sejarah negaranya sedikit banyak pasti terbuka.

 

2. Melihat comic top ikut berbahagia
Bersama ratusan penonton lain yang membayar tiket seharga Rp60.000 sampai Rp100.000, tampak Pandji Pragiwaksono, Reggy Hasibuan, Muhadkly Acho, Insan Nur Akbar, sampai Sammy Notaslimboy masuk frame saat duduk dan tertawa mendengarkan joke dari Ernest. Mereka adalah beberapa orang penting di industri stand-up comedy nasional yang sudah turut mengembangkan, memopulerkan, hingga menjadi primadona layar kaca kekinian. Terlihat juga Ramon Papana, Rindradana Ponakannyaom, Asep Suaji, dan Randhika Jamil yang namanya tak asing lagi di kuping pencinta kesenian ini.

Adapun nama-nama besar lain yang berpartisipasi memberikan keseruan di Merem Melek Tour – The Finale. Soleh Solihun didaulat menjadi pemandu acara. Serta Sakdiyah Ma’ruf, Jessica Farolan, juga Ge Pamungkas yang asyik berbagi panggung sebelum giliran Ernest tiba. Raditya Dika bahkan ikut menjadi ‘opener’, dengan menuangkan sambutan serta optimismenya terhadap stand-up comedy sebagai cabang menguntungkan di dunia hiburan.

Satu yang sedikit ‘mengganggu’, wajah nama-nama di atas – termasuk sang pemilik show – hampir lima tahun berselang tidak berubah drastis. Efek dari selalu tertawa dan bahagia, kah?

 

3. Mempelajari budaya lain lewat komedi
Satu hal yang membuat saya jatuh hati pada Stand-up Comedy Indonesia Season 1 Kompas TV adalah sudah beragamnya latar belakang comic yang berkompetisi. Ada yang dari etnis Arab, Sunda, Jawa, dan tentunya Tionghoa yang diwakili oleh Ernest.

Di Merem Melek Tour – The Finale pun Ernest tak ragu untuk kembali mengenalkan identitasnya kepada penonton. Contoh yang paling sederhana adalah saat ia menggali istilah ‘amsyong’ yang artinya luka dalam secara harafiah berikut contoh komikalnya.

Saya selalu merasa senang ketika seorang comic mengangkat dan mengungkap istilah, aktivitas, atau apa saja dari budaya atau daerah lokalnya yang lumayan sering terdengar, tetapi makna dan gambarannya tidak banyak diketahui. Setahu saya, Abdur Arsyad juga pernah membawakan tema serupa dengan mengupas penggunaan ‘aduh mama sayange’.

Sky bersama Ernest dan Meira (sumber gambar: DVD Merem Melek Tour – The Finale)

4. Bernostalgia bersama Sky
Sebagai lokasi pendaratan terakhir, wajar jika Merem Melek Tour Jakarta berbeda dibandingkan 10 kota lainnya. Kehadiran istri juga anak Ernest setelah ia menutup set dan mengucapkan terima kasih menjadi aktivitas yang cukup memorable dan seperti sudah menjadi rutinitas Ernest di setiap kota terakhir dalam rangkaian turnya.

Terlepas dari titelnya sebagai comic yang family man, menghadirkan keluarga ke panggung juga bisa menunjukkan pada audience bahwa comic sukses pun tak lepas dari dukungan keluarga apa pun bentuknya.

Menarik juga melihat kekaleman Sky Tierra Solana malam itu, pandangan yang begitu berbeda karena sekarang ia tampak selalu bersemangat dan pantang takut, setidaknya dari foto dan video yang dibagikan kedua orang tuanya di medsos.

Time flies so fast, huh?

 

(sumber gambar: DVD Merem Melek Tour – The Finale)

Leave a Reply

Your email address will not be published.