Irvan Karta dan manifesto kebahagiaan

Humor telah lama dianggap mujarab, mulai dari manfaat sosial sampai psikologis. Khusus untuk khasiat yang disebut terakhir, Christine Pasero berargumen bahwa humor yang menghasilkan tawa efektif untuk mengontrol rasa sakit. Ini karena humor mampu menjadi distraksi yang susah dikesampingkan.

Ia lantas mengutip beberapa temuan riset yang menyimpulkan kalau tertawa termasuk sebagai painkiller nonkimia. Ada Donna Fritz yang menyurvei 53 pasien kanker kronis dan hasilnya menyatakan tertawa bisa menjadi inisiatif terapi terefektif bagi para responden. Sementara studi Dolf Zillman dan koleganya membuktikan bahwa menonton konten video komedi – dan video bertema tragedi – dapat meningkatkan toleransi rasa sakit (pain tolerance) dalam diri.

Namun, dari sebegitu hebatnya kekuatan humor dan tertawa, Irvan Karta menemukan sebuah fenomena paradoks. Comic, yang kehadirannya diharapkan membawa tawa dan kesenangan, tak jarang malah menjadi pihak yang harus dibahagiakan. Scientist sekaligus finalis Stand-up Comedy Indonesia (SUCI) Season 6 Kompas TV itu menganggap faktor pemicunya adalah orientasi comic tersebut dalam mencari uang di panggung stand-up comedy.

“Saya sering melihat teman-teman comic – karena ini [stand-up comedy] jadi pekerjaan – kehilangan kegembiraan.”

Tentu, pemilik dua show Scientiae Comedium yang segera  lahir edisi ketiganya itu tak mempermasalahkan tujuan tersebut. Sah-sah saja mencari uang dari stand-up comedy karena memang peluangnya ada dan mulai terbentuk sebagai industri yang besar nan menguntungkan. Akan tetapi, attitude semacam itu tak jarang menjadi bumerang bagi yang bersangkutan, contohnya saat datang ke lokasi open mic dengan tekanan plus keharusan untuk mencoba materi baru sampai mengeluhkan banyaknya job yang ia terima.

“Ketawa sih, tapi ada kegembiraan yang hilang. Kalau mau manggung stres gitu,” jelasnya.

Akademisi Swiss German University tersebut turut menyampaikan bahaya dan gejala lenyapnya kebahagiaan dalam berkomedi. Bahayanya, ketika comic berada dalam tekanan hingga membuatnya tidak merasa nyaman saat mencoba menghibur audience, aura negatif yang ia pancarkan bisa menular ke orang-orang yang menontonnya. ‘Penyakit’ yang datangnya pelan-pelan ini juga tanpa disadari mengakibatkan ‘korbannya’ tak bergairah untuk berdiri di atas panggung.

“Pokoknya kalau sudah malas open mic – karena satu dan lain hal – itu berarti sudah kehilangan kegembiraan di stand-up comedy. Apa pun alasannya, mungkin karena jenuh, capai, kebanyakan job, atau kekurangan job, dan lain-lain.”

Apalah arti komedi tanpa kegembiraan. Betul, Pak Irvan?

 

Tulisan ini diolah dari sharing komunitas Stand-up Comedy Indo Malang bersama Irvan Karta selepas mini show Lantai Dua pada 1 Oktober 2016.

Referensi:
Pasero, C. (1998). Pain Control: Is Laughter the Best Medicine? The American Journal of Nursing, 98(12), 12-14. doi:10.2307/3471701.

(sumber gambar: Firda)

Leave a Reply

Your email address will not be published.