Comic untuk keluarga

Sama seperti media massa ataupun produk kecantikan, seorang comic juga perlu memikirkan segmentasi pasar jika ingin ikut bermain dan bertahan di industri ini. Contoh sederhananya adalah dengan menjadi bagian dari dikotomi ‘comic televisi’ atau ‘comic bawah tanah’. Apa pun pilihannya, tentu menjadi kebebasan masing-masing pelakunya.

Namun dari beragam opsi kategori yang tersedia, munculnya kelompok comic keluarga menjadi fenomena menarik.

Label ‘comic keluarga’ saya adopsi dari istilah ‘family-friendly brand of comedy’ yang dituliskan oleh Jason Zinoman di TheNewYorkTimes (28/07/16). Dalam tulisannya, ia menyoroti bagaimana mayoritas comedy club saat ini belum bisa menjadi rujukan utama bagi keluarga untuk mencari hiburan, layaknya ‘berekreasi’ ke bioskop atau pertunjukan drama dan tari. Salah satu sebabnya, tipikal comic yang ia temui cenderung sama dan belum banyak yang joke-nya serenyah guyonan badut ulang tahun atau tokoh fiksi di kartun untuk anak-anak.

Sejauh ini, baru ada dua nama besar yang dinilai mampu menjembatani audience dari kelompok orang dewasa dan anak-anak, yaitu Jim Gaffigan dan Brian Regan. Set yang kerap dibawakan keduanya tergolong bersih, jauh dari umpatan, dan masih menggunakan referensi populer yang bisa diterima semua umur dalam joke-nya, seperti lagu anak-anak serta film untuk keluarga.

Jim Gaffigan adalah comic yang langka karena gaya komedinya adalah observasional dengan tema-tema seperti makanan sampai parenting. Predikatnya sebagai comic yang clean sudah lama ia bangun, walau faktanya ia juga pernah mengumpat, yaitu ketika joke-nya belum benar-benar siap atau sempurna dan ketika unjuk gigi di show-nya bertajuk Doing My Time. Untuk kasus kedua, kreator sitcom The Jim Gaffigan Show itu terpaksa melakukannya atas tuntutan label yang menaunginya dikarenakan show tersebut menarget anak muda dan mereka dipandang suka hal yang mendobrak norma seperti mengumpat di hadapan banyak orang.

Sedangkan Brian Regan malah lebih ekstrem. Dalam tulisan lain Jason di TheNewYorkTimes (23/09/15), Brian tak hanya punya ciri khas comic yang bersih dan elegan, tetapi juga anti terhadap topik seperti seks atau pengakuan diri yang terlalu kelam. Kalaupun membahas masa lalu, ia lebih suka memilih tema lomba spelling bee dan kompetisi baseball semasa ia bersekolah. Tak jarang, Brian melakukan impersonasi pula dalam act-nya. Parodi ini rasanya punya kans besar untuk membuat penonton dari beragam kalangan tertawa karena tokoh-tokoh yang diparodikan selayaknya sudah terkenal atau mudah dikenali.

“Dia cocok untuk menjadi pembuka drama musikal Disney,” puji Jason.

Di Indonesia, fenomena serupa hampir masih jauh panggang dari api. Menurut saya, Ernest Prakasa dengan branding-nya yang kuat sebagai family-man di media sosial punya kans untuk ini. Akan tetapi di tur terakhirnya, Happinest, ia lebih memprovokasi orangtua muda untuk menonton tanpa mengajak buah hatinya. Peringatan itu sudah amat jelas dari terpampangnya logo ‘18+’ di poster tur tersebut.

Menurut Anda, apakah Ernest akan menjadi comic untuk keluarga populer pertama di Indonesia? Ataukah ada nama lain yang akan mengambil label tersebut?

 

(sumber gambar: apollotheater.org)

Leave a Reply

Your email address will not be published.