Televisi ancaman bagi stand-up comedy?

Semenjak stand-up comedy meledak di Indonesia tahun 2011 lalu dan dalam beberapa bulan kemudian menjadi komoditas stasiun televisi, tak butuh lama bagi pelaku seni ini untuk masuk ke industri hiburan induk. Para comic jebolan ajang pencarian bakat pun kini lazim mengisi daftar nama pemain layar lebar atau berkecimpung di belakang layar, menerbitkan buku, hingga beridentitas sebagai figur publik yang tiap ucapannya bisa menjadi pelecut bahkan pembunuh karirnya sendiri.

Sampai di sini, mau tidak mau, stand-up comedy harus berterima kasih pada televisi, walau ada juga efek negatif yang dilahirkannya.

Dari pengamatan kasat penulis, tahun 2015 cocok disebut sebagai momentum ‘comedy boom’ di Tanah Air. Di dalam layar kaca, comic kian terekspos berkat hadirnya Indosiar dengan kompetisi Stand-up Comedy Academy Indonesia (SUCA) yang menyaingi Stand-up Comedy Indonesia (SUCI) milik Kompas TV yang saat itu sudah memasuki musim kelima. Itu pun belum ditambah dengan Stand-up Everywhere di RCTI, Komika Vaganza di MNCTV, dan pendamping setia SUCI sejak 2011, Stand-up Comedy Show di Metro TV.

Dengan banyaknya wadah untuk para comic, wajar jika stok comic sendiri meningkat. Rasanya setelah stand-up comedy makin sering ditampilkan di televisi swasta Tanah Air, hampir setiap orang adalah comic. Situasi di Indonesia tahun 2015 ini serupa dengan di Amerika Serikat tahun 80-an menurut seorang comic veteran, Richard Belzer.

“Komedi sudah mirip seperti musik rock & roll. Anak-anak di tahun 50-an ingin memiliki tali gitar dan menjadi seperti Elvis Presley. Sekarang [saat itu tahun 80-an], mereka ingin menjadi Jay Leno atau Eddie Murphy atau Steve Martin atau Robin Williams,” jelas Richard seperti dikutip dari RollingStone (03/11/88).

Hampir sama dengan di Indonesia, hegemoni televisi kabel – di samping meningkatnya penjualan Video Cassette Recorder (VCR) dan video tape – adalah pemicu utama comedy boom di AS tahun 80-an. Saat itu, jaringan televisi kabel suka bekerja sama dengan para comic karena harga stand-up special atau show-nya tak lebih mahal ketimbang membeli lisensi film Hollywood saat itu.

Maka, di tahun 80-an, karya para comic seperti stand-up comedy special bertajuk An Evening With Robin Williams (1982) dari Robin Williams, Delirious (1983) milik Eddie Murphy, A Steven Wright Special (1985) persembahan Steven Wright, termasuk sitcom legendaris The Cosby Show (1984) dan Seinfeld (1989) bisa disaksikan dari layar kaca.

Namun, booming-nya stand-up comedy di televisi membawa konsekuensi terhadap comedy club di AS, yang notabene adalah tulang punggung industri tersebut dan sudah membantu memasyarakatkan stand-up comedy sejak era 60-an. Imbas dari sepinya pengunjung, The Improvisation, comedy club terkemuka di sana, sempat memangkas jadwal show-nya menjadi tidak sampai seminggu penuh. Franchise Catch a Rising Star di East Side, Manhattan, tutup. Pemasukan Comedy Cellar menukik 15 persen dari 1992 sampai 1994.

Silver Saundors Friedman, mantan istri Budd Friedman yang juga turut mengelola The Improv, lantas menyalahkan televisi yang sudah menjadikan stand-up comedy sebagai komoditasnya.

“Anda bisa tinggal di rumah dan melihat semua komedi jelek semau Anda. Mereka [televisi] mendemistikasikan stand-up comedy. Mereka membuatnya terlalu biasa,” terang Silver kepada NYTimes (03/02/94).

Akan tetapi, comedy boom tak melulu negatif. Berkat perluasan jangkauan stand-up comedy itu sendiri, maka comic-comic dari generasi berikutnya yang tak kalah fenomenal menjadi lebih terdidik. Dikutip dari TimeOut (13/10/15), Gabriel Iglesias mungkin tak akan menjadi comic kalau ia tidak menikmati stand-up comedy special George Carlin di HBO yang ia pandang sebagai “game-changer” di industri ini. Kevin Hart malah diberitakan oleh TheComicsComic (01/16/13) terang-terangan memuji Jerry Seinfeld yang telah menancapkan standar tinggi untuk stand-up comedy berkat apa yang ia lakukan di televisi.

 

(sumber gambar: santmagazine.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published.