Stand-up Comedy Show Tribute to Begundal Lowokwaru: Komedi berjiwa punk

Liar, beda, dan tetap lucu plus menghibur, Stand-up Comedy Show Tribute to Begundal Lowokwaru mencakup empat elemen tersebut.

Sebelum melanjutkan tulisan ini lebih jauh, saya ingin mengirimkan secuil apresiasi kepada Begundal Lowokwaru yang tahun ini telah 18 tahun berkiprah. Saya bukan pendengar setia karya band itu; menonton aksi mereka secara langsung pun baru kemarin. Namun karena tak banyak grup band yang usianya bisa mencapai umur-umur ‘akil baligh’ dan selalu ingin berinovasi, minimal dalam merayakan ulang tahunnya, mohon terima salam salut saya ini.

Kapasitas saya menulis kali ini adalah sebagai penonton yang ingin mengabadikan sebuah perhelatan stand-up comedy show yang tak biasa. Stand-up Comedy Show Tribute to Begundal Lowokwaru yang dihelat di Godbless Café 2 Malang, 30 Januari 2017, begitu berbeda dengan stand-up comedy show kebanyakan, atau lebih pastinya yang pernah saya hadiri. Sebab, audience malam itu diajak untuk menjadi saksi ‘prosesi pernikahan’ antara komedi dan musik punk berikut budayanya.

Ya, setahu saya, ini pertama kalinya sebuah stand-up comedy show di Malang dihelat di ‘markasnya’ musisi. Tak ada follow spot atau background kain polos ala-ala stand-up comedy show di gedung yang disewa khusus, yang ada malah ‘perlengkapan perang’ personel Begundal Lowokwaru yang langsung naik panggung setelah stand-up comedy show berakhir. Di bawah panggung, terdapat beberapa kursi berjejer lengkap dengan music stand-nya milik anggota Deny Mahendra Orchestra yang malam itu diajak berkolaborasi oleh yang sedang merayakan ulang tahun.

Show ini juga berjalan dengan konsep yang tak lazim. Kalau stand-up comedy show pada umumnya dipandu oleh satu atau dua orang comic, malam itu Ustad Chipeng, vokalis Begundal Lowokwaru, yang menjadi ‘imam’. Ia memang tak membacakan aturan-aturan sebelum show dimulai yang dilucukan serta tak lincah dalam me-riffing penonton layaknya comic di acaranya sendiri. Ia lebih memilih untuk menjadi dirinya sendiri, yakni sambil asyik merokok dan membawakan joke soal kehidupannya sendiri serta band yang ia gawangi.

Laugh per minute-nya tidak padat, tapi setidaknya penonton yang awam terhadap Begundal Lowokwaru jadi tahu sejarah penamaan band tersebut yang ternyata ditujukan untuk menghormati para penghuni Lembaga Permasyarakatan Lowokwaru, tips mendapatkan istri walau tidak direstui orangtuanya ala Chipeng, dan alasan mengapa musisi yang pernah bekerja menjadi chef itu kapok sholat.

Sedikit banyak, tugas Firman Singa, Bobby Darwin, Agus Juned, Ichal, dan Rifan Cebol untuk menghibur penonton pun sedikit ‘dimudahkan’ oleh Ustad Chipeng, yang sebelumnya pernah saya saksikan berlaga di panggung open mic Stand-up Comedy Indo Malang.

Masih ada hal yang menarik tentang konsep show ini. Jadi, empat comic utama di show tersebut mempunyai materi atau persona yang berkaitan dengan lagu-lagu Begundal Lowokwaru, misalnya Bobby yang menceritakan tentang getir pernikahannya lantas diikat dengan lagu ‘Selamat Menikah’ atau Juned sang buruh yang kedatangannya ke panggung dibubuhi kisah di balik ‘Lagu Cinta Kelas Pekerja’. Alhasil, Chipeng pun bisa memberikan pengenalan yang holistik pada Ichal, Juned, Bobby, dan Firman, sambil melempar joke yang masih berkaitan dengan materi juga persona mereka.

Oh, jangan lupakan pula bahwa di show ini tiap penonton berhak membawa pulang selembar poster acara yang disablon di selembar kertas A3 berwarna coklat. Kata Firman, bonus semacam ini biasa didapat di gigs musik punk. Lumayan buat koleksi.

Baiklah, sekarang mari mengulas sekilas para comic yang memeriahkan Stand-up Comedy Show Tribute to Begundal Lowokwaru.

Rifan Andika

Sebagai opener, ia menjalankan tugasnya dengan baik. Misalnya, dengan tak gentar oleh penonton yang ketika ia mengucap salam pembuka hingga pertengahan penampilannya masih sedikit jumlahnya. Malam itu, ia hanya membawakan set terbaiknya berdurasi 10 menit, tidak ada benang merah dengan lagu Begundal Lowokwaru atau materi yang berkaitan dengan Chipeng cs.

Bit Terbaik: Tipe Pedagang Asongan.

Ichallisme

Dengan tampang dan fisik yang sebenarnya di atas rata-rata serta tato yang membuatnya kian artsy plus edgy, tak banyak yang tahu kalau Ichal ternyata seorang residivis. Sejumlah act-out dan parodi mengandung callback membumbui joke yang sarat kekelaman masa lalunya. Ia mengaitkan sejarah nama ‘Begundal Lowokwaru’ dengan pengalaman berikut observasinya tentang penjara dan penghuninya.

Bit Terbaik: Kehidupan di Penjara.

Agus Juned

Sudah cukup lama menyaksikan Juned berdiri di panggung stand-up comedy. Namun di show itu, satu hal yang membuatnya cukup menonjol dibandingkan lineup lain adalah keberaniannya untuk ‘ngerjain’ penonton dengan joke yang kata seorang penonton mirip-mirip ‘guyonan orang pabrik’.

Bit Terbaik: Anggota Ormas Islam Membawa Flare Saat Pengajian Massal.

Bobby Darwin

Ikhlas menjadi seorang mualaf karena menikahi wanita Muslim tetapi kemudian malah ditinggal selingkuh, keresahan Bobby Darwin pun sangat tebal dan mewah. Ia banyak berkeluh kesah tentang benturan yang ia alami dalam hidupnya, baik ketika masih menjadi umat Nasrani hingga menjadi muslim yang tak taat-taat amat.

Bit Terbaik: Mualaf Pemula Mengazani Anaknya.

Firman Singa

Tidak mungkin Firman tidak menikmati panggungnya malam itu. Sebagai pengusung persona anak punk di Stand-up Comedy Indonesia Season 6 Kompas TV, panggung malam itu selayaknya habitatnya. Seperti biasa, ia naik, berdiri, dan turun panggung dengan kepercayaan diri yang tinggi.

Bit Terbaik: Angkutan Umum Berbahan Bakar Tinja.

Keseruan Stand-up Comedy Show Tribute to Begundal Lowokwaru lalu dilanjutkan dengan aksi panggung ‘the birthday boys’ bersama Deny Mahendra Orchestra dan anak punk yang merangsek ke venue untuk ikut berpesta sembari moshing bersama beberapa pengunjung plus para lineup. Mengutip kata Firman, di show ini “yang penting semua happy.”

Mungkin hujan deras di Kota Malang malam itu membuat show ini tidak jadi full-house. Atau mungkin juga beberapa penikmat stand-up comedy yang berminat menonton mengurungkan niatnya karena punya prasangka tersendiri terhadap musik punk dan orang-orang di lingkaran itu. Namun terlepas dari indikasi tersebut dan tidak penuhnya semua kursi yang tersedia, Stand-up Comedy Show Tribute to Begundal Lowokwaru sudah menuliskan sejarah dengan menjadi pertunjukan stand-up comedy pertama di Malang (mungkin juga di Indonesia dan dunia) yang berkolaborasi dengan band punk.

 

(sumber gambar: Firda)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.