Budd ‘The King of Comedy’ Friedman yang akan selalu dikenang

Sebuah kenekatan yang berujung manis. Itulah kalimat yang cocok menggambarkan kisah hidup Budd Friedman. Kalau ia tak bertindak ‘bodoh’, mungkin nasib Jay Leno, Adam Sandler, atau Jerry Seinfeld bakal berbeda dengan sekarang.

Pria berambut putih di atas adalah pendiri comedy club legendaris di Amerika Serikat, The Improvisation. Tak hanya membangun sebuah gedung pertunjukan bagi komedian, ia juga layak disebut sebagai peletak pondasi industri stand-up comedy saat ini. Terang saja, comedy club yang berdiri tahun 1963 tersebut sudah mengorbitkan nama-nama besar yang tiga di antaranya terpampang di paragraf awal.

Namun, layaknya kisah orang-orang sukses, jalan yang harus dilalui Budd di industri hiburan tak sepele. Pria yang sempat ikut Perang Korea itu mulanya bekerja di sebuah agensi iklan kecil di Boston ketika usianya 29 tahun. Tak lama, ia memutuskan untuk keluar dan pindah ke New York untuk menjadi produser pertunjukan Broadway.

Keputusan itu bisa dibilang sangat nekat. Sebab, Budd mengaku “tidak punya bekal jiwa seni dan modal.” Untung saja ibunya bersedia memodalinya dengan segepok uang warisan dari pamannya senilai 5.000 USD (sekitar Rp 67 juta).

Sesampainya di New York, ia tak lantas bisa menghidupi mimpinya itu. Budd malah bekerja sebagai pramusaji di sebuah restoran. Akan tetapi, di restoran itulah sebuah ide konsep cikal-bakal The Improv muncul. Berdasarkan pengakuannya kepada LasVegasSun (18/06/08), pria kelahiran 6 Juni 1932 tersebut melihat peluang bahwa tidak ada club yang menampung para penyanyi Broadway setelah ‘manggung’ dan mempersilakan mereka untuk tampil secara spontan.

“Saat pertama kali saya membuka The Improv, club itu menyasar para penyanyi. Ini bukti betapa cerdiknya saya,” selorohnya.

Budd Friedman saat masih muda di The Improv (sumber gambar: Variety)

Budd Friedman muda berfoto di tengah acara di The Improv (sumber gambar: Variety)

Identitas The Improv menjadi ‘inkubator komedi’ kemudian berubah setahun kemudian setelah Dave Astor berdiri di panggung untuk open mic. Tak butuh lama sampai The Improv pada akhirnya menghadirkan para comic besar saat itu, contohnya George Burns, Sid Caesar, dan Milton Berle, hingga comic yang terkenal di generasi sekarang.

“Sayalah orang pertama yang menyuguhkan hiburan berisi lebih dari satu comic dalam semalam. Kadang, kami malah menampilkan 15 comic dan buka sampai pukul 6 pagi.”

Comedy club yang mengawinkan stand-up comedy dengan batu bata merah itu turut berkontribusi memopulerkan stand-up comedy sebagai komoditas hiburan dengan menjadi tuan rumah acara An Evening at the Improv, program stand-up comedy show mingguan yang ditayangkan di Arts & Entertainment Network (A&E). Show yang direkam di The Improv cabang Hollywood itu memberi kesempatan comic-comic muda untuk tampil di televisi sekaligus memperluas jangkauan stand-up comedy ke ruang tamu para keluarga di AS. Acara yang dipandu oleh Budd sendiri itu tayang mulai tahun 1982 sampai 1996 dan sempat berkompetisi langsung dengan Saturday Night Live.

Di usianya yang ke-84, Budd kini menikmati buah dari kerja kerasnya. The Improv, yang berusia lebih dari separuh abad, kini sudah punya 22 cabang di seluruh penjuru AS. Ia pun biasa menerima penghargaan semacam Lifetime Achievement Award dari Golden Goody Award hingga puja-puji berupa titel ‘the King of Comedy’ sembari aktif di kegiatan amal.

 

(sumber gambar: YouTube / GoodyAwards)

Leave a Reply

Your email address will not be published.