Kokoyawo – Syebal: Sebal, sebal, gemas

Tak harus berkarya di televisi dulu untuk membuat karya yang pantas dikenang. Kokoyawo di Syebal dengan brilian dan tanpa sungkan menuangkan observasi dan opini menggemaskannya ke joke-joke yang ia siapkan. Dihadiri pula oleh orang-orang yang mengenal dan Koko kenal baik di kehidupannya di bawah panggung, Syebal diakhiri dengan kumpulan ucapan selamat, jabat erat, serta antrean ajakan foto dan Instagram Stories bersama empunya acara. Saya dihadapkan oleh sebuah pertunjukan komedi tunggal yang benar-benar hangat.

Continue reading →

Syebal bukan tentang kesebalan banal

Jujur, sebagai orang luar, Stand-up Indo Jogja adalah salah satu komunitas yang bisa membuat saya angkat topi tinggi-tinggi. Sejauh mengamati kesenian ini dari tahun 2012, Jogja adalah pabrik besar untuk pelaku industri stand-up comedy layar kaca. Tak hanya banyak, tetapi juga variatif, baik dari segi tipikal komedi maupun generasi. Mereka konsisten melahirkan komika semacam Wisben Antoro, (alm) Gareng Rakasiwi, Oom Imot, Beni Siregar, Hifdzi Khoir, Radit Vent, sampai Mukti Entut dan Ali Akbar.

Tahun ini, satu nama yang masih muda tapi berjam terbang tinggi mencoba mengukir historinya sendiri: Tantoko Yawo.

Continue reading →

Eksplanasi yang (mungkin) Anda cari tentang Stand-up Night termegah se-Indonesia

22 November 2017, komunitas Stand-up Indo Malang menorehkan sejarah, baik di skala lokal maupun nasional. Ya, Stand-up Night keenamnya alias #SUN6MLG dimeriahkan oleh total 20 comic serta dihadiri lebih dari 3.500 penonton dari semua kalangan. Acara legendaris ini bahkan masih hidup di sebagian benak saksinya dan menjadi pembicaraan sampai sekarang.

Continue reading →

Ahamed Weinberg dan perayaan identitas Muslim di komedi

Di antara nama-nama stand-up comedian yang berbasis di Los Angeles, California, Ahamed Weinberg termasuk ke kelompok kecil yang terunik secara persona. Ia adalah anak dari sepasang mualaf seorang pria Yahudi dan wanita Katolik. Jangan terkejut, nama depannya yang Islami yang dibarengi nama marga Yahudi hanyalah satu dari sekian banyak joke briliannya.

Continue reading →

Jon Atherton – Disoriental: Penghakiman lucu kepada orang Asia

iflix mengambil langkah besar. Untuk pertama kalinya, mereka merilis tayangan stand-up comedy special, setelah sebelumnya “hanya” menayangkan show comic keroyokan, yaitu Oi! Jaga Mulut (versi Malaysia) dan Oi! Jaga Lambe (versi Indonesia). Berdasarkan pengalaman dan keandalan si comic itu sendiri serta keselarasan dengan target iflix untuk menghadirkan komedian yang “universal” di wilayah operasi mereka yang sebagian besar adalah kawasan Asia, mereka mengklaim tak ada nama lain yang lebih pantas untuk menjadi bagian dari sejarah besar ini selain Jon Atherton.

Continue reading →

4 (+1) Komika layak tonton di Oi! Jaga Lambe

Saya sadari, membuat klaim seperti judul di atas amatlah berat tanggung jawabnya. Apalagi, saya melontarkan klaim tersebut hanya berbekal video taping deretan lineup Oi! Jaga Lambe di iflix, yang mana video tersebut sudah melewati proses trimming hingga editing macam selipan tawa tambahan.

Continue reading →

Ekspektasi tinggi pada “balik kucing” Ellen DeGeneres yang kedua

15 tahun berlalu, akhirnya Ellen DeGeneres segera kembali ke “habitat aslinya”: panggung stand-up comedy. Namun, bukannya lantas mentas sebagai host The Ellen DeGeneres Show yang sudah berjalan 15 season atau menarik diri dari dunia layar lebar, ia sepertinya hanya akan turun gunung sebentar, yakni untuk melunasi sebuah kontrak stand-up comedy special dari Netflix.

Continue reading →

Oi! Jaga Mulut: Tutup mulut Anda sekarang dan nikmatilah dengan riang!

Saya dan rekan-rekan di komunitas Stand-up Indo Malang sering mendengar Reggy Hasibuan berbagi pengalamannya saat show di luar negeri, termasuk ketika di Malaysia, Filipina, hingga Kamboja. Sebagai komika Indonesia yang merintis hal tersebut, tentu ia punya hak dan kapabilitas. Tak cuma dari segi teknis, seperti crowd work di hadapan penonton berlatar belakang berbagai negara atau hal-hal aneh yang kadang terjadi selama kunjungannya di sana, kerap juga ia menceritakan bagaimana tipikal comic-comic di sana. Sayangnya, hal itu hanya membuat saya makin penasaran dengan para comic dari negeri-negeri jiran.

Continue reading →

Di balik komedi “suci” Fito Ditapradja

Fito Ditapradja adalah salah satu comic yang sudah mengganggu pikiran saya sejak lama gara-gara tipikal komedinya. Rasa joke-nya tidak “pahit”, bahkan sangat manis seakan tanpa keresahan; mengobservasi hal-hal remeh cenderung aneh, semacam Squidward Tentacles dan sekolah khusus bayi; juga ia hampir tidak pernah mengumpat di panggung. Sebuah anomali di tengah tren comic Indonesia yang berkiblat pada Louis C.K. sekaligus pengadopsi formula “tragedi + waktu = komedi”.

Continue reading →